Jakarta, Anjani, dan Masa Depan | Puisi-Puisi Ahmad Rizki

Puisi Anjani, Jakarta, Perkembangan Jakarta, Zaman Penjajahan, Merdeka, Penyair, Ciputat, Pasar, Perempuan

Dikawinkan Puisi

Anjani—
barangkali Tuhan seng-
         aja menciptakan pu-
       isi untuk mengurangi bia-
                                ya pernikahan
                             yang tak manusiawi.

barangkali hanya pui-
 si yang akan membesar-
       kan anak-cucu, karena bi-
          aya kehidupan, hari ke hari,
                                 banyak dimanip-
              ulasi, dan kita gagal mencari arti.
Barangkali hanya puisi
    yang akan mengawinkan
                               kita—Anjani.

Pengasinan, 5 Februari 2022

Jakarta, Anjani, dan Masa Depan

Sudahkah kita mengerti
                    —sejak zaman penjajah sampai merdeka—
perkembangan Jakarta
mustahil memihak kita, Anjani?

Jakarta hanya melahirkan kesombongan,
liar dan tak masuk akal. 
Cinta tak pernah hadir di Jakarta, Anjani.

Sejak dulu
                    —bahkan sampai masa depan kita—
Jakarta tak akan memuat cinta.
Di sini, tradisi setan lebih dominan,
dan cinta yang kita perjuangkan
adalah pecundang.

Sudahkah matamu menganga
                    —sejak tanam paksa sampai rencana pindah ibu kota—
untuk melihat sejelas-jelasnya tubuh Jakarta, Anjani?
Tubuh yang makin durhaka dan mencelakai masa depan kita.

Anjani,
Jakarta tak dibentuk oleh cinta,
Kasih sayang tak mampir ke Jakarta.
Bukankah orang-orang sering berkata Jakarta
                    —pusat kekuasaan dan kejahatan—
mustahil memanusiakan kita berdua.
Sebab, payung iman leluhur kabur
setelah tahu dirinya akan dikubur.
Sudahlah—Anjani.
Impian dan masa depan
tak melulu sebuah kota.

Jakarta, 2018

Mulanya Perempuan Diciptakan

Mulanya,
perempuan diciptakan dari
air dan api—tanah dan langit. 
Tubuh perempuan berkembang oleh musim dingin. 
Fungsi hati dan pikirannya untuk menyimpan sejarah kasih dan sayang.

Akhirnya, 
berabad-abad lamanya ia dicipta, 
dan jika perempuan mati, 
ia akan dimatikan
air mata dan kebisuan.

Jakarta, 2020

Di Sisi Pasar Ciputat

Di sisi pasar Ciputat,
terjagalah aku.

Hidup terbentuk dalam kata.
Wujudku terlihat dalam
bahasa angin.

Aku mengenal jiwaku
lewat luka,
     angkara,
dan sakit yang melulu entah.

Kebenaran menjelma waktu
yang mustahil menipu.
Sedang aku mencintai waktu,
puasa adalah menikmati derita
yang menempel
di antara tubuhku.
Ya, di antara hidupku.

Ciputat, 2021

Sebenarnya, Apa yang Dapat Dilakukan Puisi?

Katanya,
Penyair mengiris kata,
Membentuk cinta dan wajah dunia.

Sebenarnya, apa yang dapat dilakukan puisi ketika penyair hilang ingatan?
Mungkinkah puisi akan menuntun penyair untuk menemukan ingatannya?

Katanya,
Penyair menghujani makna,
Membanjiri desa dan kota.

Sebenarnya, apa yang dilakukan puisi ketika kelembutan hati manusia diganti mesin-mesin?
Mungkinkah puisi akan menjelma buku panduan menuju sebuah peradaban?

Apakah puisi dapat menyelesaikan peperangan yang tak masuk akal?

Katanya,
Penyair membentuk metafora,
Menyelipkan dosa dan propaganda.

Sebenarnya, apa yang dapat dilakukan puisi ketika semua manusia akan mati?

Depok, 2022


Ditulis oleh Ahmad Rizki. Kini menetap di Ciputat, Tangerang Selatan. Sibuk self-healing dan mendalami muara omong kosong di mana-mana. Beberapa tulisan omong kosongnya dimuat dalam media online. Karya yang telah dibukukan, Sisa-Sisa Kesemrawutan; Gelisah (Himpunan Sajak); Sajak Asbak. Informasi lebih lanjut dapat ditilik melalui Instagram ah_rzkiii

Editor: Pemulung Rasa

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

1 comment

  1. Pemuda betul anda bung Ahmad.
    Salute!