Air Mata di Suatu Pojok Kota | Sekumpulan Puisi Joko Rabsodi

 

AKU BUKAN CASSANOVA

Aku hengkang dari seonggok fetus 
yang telah kau bekali caci maki dan lumpur dosa
dan sepotong firasat yang engkau keluhkan
tertahan dalam dada
menyentak jantungku yang diam-diam menyimpan 
wajahmu

Nawal//
dulu ingin kutitipkan celah rindu yang berderai
agar terkurung dalam detak jiwa
seperti di sini satu nama selalu terulang dan mengental
laksana syair yang tak lekas bosan mengucapakan
epitaf cinta

Entah kenapa kau diamkan aku dalam pilu yang beku
padahal aku bukan cassanova yang berencana
menulis rindu di tiap agenda wanita

Pamekasan, November 2021


SETIA HINGGA KAMPUS FIRDAUS

Apakah kau tak percaya lagi akan janji-janji
yang kutegakkan di atas matahari
aku takkan berhenti mengalirkan rindu
dan menjaring wajahmu dalam doa-doaku
sepanjang aku mampu meneruskan napas
sejauh itu pula kan kuasah senja dan kusempurnakan hati
untuk menciptakan kelanggengan
kita tak hanya kenal lewat laman sejarah,; bersua sejenak lalu berpisah

Seberat apa pun langkah meski harus kubongkar 
kamar-kamar rembulan akan aku untai
demi berharap kesetiaan akan mencari  batinmu
mudah-mudahan dendang pertemuan kita
akan mengisi ruang-ruang kosong 
menghalau sunyi jauh dalam genggaman erat
lalu menyulam pelangi hingga hidup ini teduh nan indah

Pamekasan, November 2021


SALAM TERAKHIR

Emak, gagalkan operasi ini
ginjalku terlanjur penuh duri
relakan aku singgah di nur yang membuat atlas sendiri
percuma riwayatku bagai terkutuk maja
cukup sudah kutebangi cuaca mengerikan
hingga aku lupa aku manusia

Emak, lepaskan tanganmu
biarlah matahari menyetubuhi rohku yang telanjang
lupakan sakitku sebab nanah takkan kejam menyilet napasku

Emak, di ujung jalan itu engkau masih berdiri
engkau tahu sama sekali aku tidak tertarik
pada bangunan putih yang sebentar lagi akan 
menyambut sirene kehadiranku

Emak, maafkan aku yang tak bisa mengelak
aku akan menunggumu lewat air mata yang kau hablurkan
telah kupersembahkan surabaya-madura untukmu
hingga izrail sampaikan salam terakhir

Pamekasan, November 2021


DIALOG KEMATIAN

Dialog kita di antara reruntuhan sunyi
tentang jutaan cahaya malam itu
kembali kandas ke tengah lautan

Malam yang kau taburi bunga kematian
sampai kini terasa sepi
bahkan seluruh syairku selalu rantau di hati
; ada isak tangis tertahan
kala senyummu itu darah penghabisan

Pamekasan, November 2021


SELALU ADA YANG TERLUKA

Dari arah matahari terbit
seorang lelaki melingkarkan tangannya 
di atap-atap pasir
tidak jelas apa yang dicumbunya dari bayang-bayang
tapi ketika ia menyeduh sesekrup pasir
ada kengerian bangkit dan melapangkan air matanya

Semakin tidak jelas 
apa yang ditangkap indera tangisnya
sebab dua tahun lalu ia juga menjerit
setelah tangan kirinya memeluk-meluk pasir
entah, aku kian tak mengerti
karena setiap matahari pecah 
embun matanya selalu terluka

Pamekasan, September 2021


TEMAN GELAP

Norma, dimana kita berdiri selalu basah
oleh sajak-sajak naluri
rumah cokelat tua yang pernah kita salami
tembok tetap merekam album muda kita
namun kenapa kau lebih suka memungut sisa fajar
yang roboh di perut lelaki lain
sementara paku alam yang kau telan tempo dulu
utuh tak berbuah

Norma, kini kau datang bagai khalifah putus asa
lantas mengajakku mengenali tembok 
yang pernah kujejali spermatozoa; untuk apa?

Pamekasan, September 2021


DIFABEL

Ibu, kau titipkan air mata di dadaku
napasku selalu terlapis namamu
cabutlah kado itu, aku tak sanggup lagi 
menyisir rindu yang dalamnya tak terukur waktu
jangan biarkan tangan ini menari 
atas wujudmu, karena sesungguhnya ia duka 
yang tak bisa kuwarnai

Andai Tuhan sore ini bertanya, ia akan tahu 
bahwa air mata itu telah menjadi hati
dan mungkin membatu
tunggu apalagi ibu, tiap surya yang kau poles
dari daun seroja, hanya mengantarkan aku
pada rasa yang tak bisa kunikmati
hari-hari terus mengkerut bahkan malaikat pun
menganga; “doa mana yang kau pilih ibu?”

Ibu, kulipat keyakinanku meski huruf-hurufnya
tak lagi menggemaskan
terpaksa kuulang sepi yang telanjang
tanpa matahari maupun rembulan 
tapi malam ini aku masih setia di garis tepi
untuk membuka mimpi dari mukadimah yang
berangsur-angsur turun  dari lisanmu
tapi perlu engkau ingat ibu;
aku bersyukur atas ketidaksempurnaanku
aku berhati-hati dalam kelengkapanku
karena setiap langit ada atapnya
setiap telaga ada dasarnya

Pamekasan, September 2021


AIR MATA DI SUATU POJOK KOTA

Heran, di pojok kota ini tangis tak pernah surut 
aku tahu kotamu ditakdirkan untuk
menampung air mata 
membenamkan mayat tanpa nama
tapi setidaknya ada celah untuk menitipkan rindu
yang sedalam-dalamnya
agar mereka yang kehilangan air mata 
masih bisa tertawa meski di bawah reruntuhan 
bangunan tua
kotamu tidak pernah merancang napasku
demikian aku tak paham untuk apa
kotamu dilahirkan
yang pasti sujudku sempat mengalun indah
di kotamu

Palestina, entah dalam kurun apa
engkau bertahan dari amuk peristiwa
yang sulit padam
tahun-tahun kerontangan dalam perih
kematian dan luka jahanam
engkau diam dalam bahasa tertunduk
apakah lantaran engkau sadar inilah yang tersirat?
Ataukah kematian sesungguhnya jawaban yang paling indah?


Madura, September 2021

Ditulis oleh Joko Rabsodi,
Lahir di Pamekasan, Juni 1981.
Santri yang mengabdi di SMA Negeri 4 Pamekasan, Madura.
Karyanya terbit di Horison, Bali Post, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, dan lain-lain. Antologi terbarunya bersama Sosiawan Leak,
"Sabda Asmara, Luka, dan Rindu", 2021.

Editor: Pemulung Rasa 

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment