Sesak dan Puisi untuk Gen-Z Lainnya | Abdul Turgenev

di ujung overthinking tak kutemukan apa-apa kecuali kesia-siaan belaka -kecuali laut yang kehausan hujan.

SESAK

Gen-Z memeras api
lewati jembatan hari ini
omong-omong makin buyar
circle hidup makin ambyar
 
after hidup makin kasar
kota berdesak
Gen-Z sesak
nyanyikan sajak
mabuk arak
mental rusak
dan keadaan makin sesak
 
Gen-Z memeras api
lewati mimpi, patahkan hati
sambil insecure ia berkata:
make sure, perempuanku
end up kemabukkan dan asmara
mostly cinta itu basa-basi.
 
Gen-Z memeras api
lewati jembatan hari ini
tapi ayah-ibu tidak di sini
apakah hidup terus begini?
(2023)

SESAK I

sebagai Gen-Z
aku tuliskan ini karena hidup yang sesak
saat tak kita temukan lagi keheningan
dan sesak yang tak dapat lagi disembunyikan
bisakah ini tak membuat kita overthinking?
 
hai, kenapa?
sebagai Gen-Z
bukankah hidup ini sesak?
dulu-sekarang sama aja
urusan cinta
urusan keluarga
urusan circle
urusan modis
urusan Jakarta
dan lain-lainnya
selalu berujung malapetaka
selalu berakhir sia-sia
 
Ya, kita pastikan
sebagai Gen-Z
ini adalah kenyataan
hidup yang tak terelakkan
walau mental berantakan
walau hidup juga berantakan
walau segalanya akan berantakan
 
maka
aku tulis ini
sebagai inisiasi
yang bisa juga basa-basi
--dan tentu bukan motivasi--
atau kesadaran lain sebelum mati
bahwa hidup ini amat sesak!
bukankah hidup memang sesak?
 
sebagai Gen-Z
kita telah sama mengerti
dan amat pandai
mengelabui dunia ini,
dan ini terjadi bukan kehendak kami
sudahkah kalian mengerti?
bahwa kami juga berhak memilih
atas tuntutan
atas hal ihwal
atas kelahiran yang tak kami kehendaki,
tapi mengapa generasi kami
dianggap anak tiri?
 
hai, kenapa?
bukankah memang begini?
kita bisa tertawa karena
mabuk anggur merah
dan beberapa botol
alkohol impor
realitas asmara
hanya kamar hotel
yang tahu jelasnya
ah... iya...
lain-lainnya
bisa kalian lihat kenyataan
yang sebenarnya, di muka
di media, hmm... di mana-mana
itu ada, asal kalian peka!
dan itu hanya sebagian
yang harus kalian tahu
 
sebagai Gen-Z
aku tuliskan ini karena hidup yang sesak
bisa kita lari dari ini?
walau mustahil
tapi bergunakah ini?
bisakah tulisan ini membuat sesak itu musnah?
jangan! 
kita sudah coba
untuk lari dari hidup ini
dan tentu itu sia-sia
 
namun bisakah itu
membuat kita makin tahu
bahwa tak ada lagi ungkapan
tak ada kenyataan
tak ada lagi kata
yang pasti selain sesak
selain amat sesak?
 
sebagai Gen-Z
haruskah kutanyakan lagi
bahwa
apakah hidup ini sesak?
dan memang sesak
amat sesak!
(2023)

Baca juga ragam PUISI lainnya biar hidupmu tidak begitu-begitu mulu.

SESAK II

di tengah overthinking
kuterjebak mimpi mewah
apakah yang terbaik untuk hari ini?
 
anyway
suara anxious menggema riang
menyangkut di jantung
pikiran bingung
perasaan malang
bisikan penasaran
bertubi-tubi datang
 
anyway
betapa muskil menahan
kesadaran, tertekan
mental terjepit
betapa muskil menahan
kesadaran, tertekan
flexing murahan
ah... betapa
sulit ditaklukkan
segala yang telanjur dirasakan.
 
anyway
suatu yang kekhawatiran
itu tidak bermakna, dan
itu adalah pasir keabadian
dan mimpi-mimpi
dan surga-surga duniawi
dan sebab itu, ternyata
kebetean dan suatu hal tak bermakna
itu memang ada, nyata.
 
aku tak ingat
perjalanan dari dunia ini
namun apakah yang
kembali dari
ketaksadaran
akan sampai ke keabadian?
 
di ujung overthinking
tak kutemukan apa-apa
kecuali kesia-siaan belaka
--kecuali laut yang kehausan hujan
(2023)

Ditulis oleh Abdul Turgenev, biasa dipanggil Turge. Penikmat musik klasik dan novel remaja. Sekarang sibuk menghabiskan waktu membaca hidup dan buku-buku bekas peninggalan keluarga, pun menulis puisi di Instagram, Turge.


About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment