Posts

Lelaki di Padang Pasir dan Sajak yang Lain | Ahmad Rizki

barangkali, puisi satu-satunya keadilan yang berdiri di balik kecamuk panjang mengukir hati, kematian dalam keanehan puisi begitu riang suaranya
 

LELAKI DI PADANG PASIR
:buat Mahmoud Darwish

Mula-mula malaikat terbata-bata
mengeja kata demi kata
yang ringkih digoda waktu
di pangkal peluru, menggigil beku
masihkah keajaiban menghangatkan-Mu?
 
Hari-hari terbayang-bayang revolusi
dari puisi, dari penjara, dari sepotong roti
yang dimasak leluhur tanah ini
mengapa tatapan-Mu semakin sepi,
sangsi?
 
Hari ini, darah dan tangisan melukis tubuhnya
di reruntuhan, di angkasa, di meja pemerintah
penuh debu dan bau fosfor berwana merah
ketakutan menjelma zaman, 
mengakar di tanah yang tandus
di mana-mana
anak-anak menyeka kematian
membakar jiwa dan menggambar altar
berdoa, membaca mantra, 
tangan dikepal
nyalinya stabil
tirakat kehidupan menyalib awan-awan
dan doa-doa melahirkan makna lain
dari rongga kalimat yang lalim
semua tertuju, 
terwujud di lautan pasir.
 
Sekarang
malaikat telah percaya
darah dan kematian itu nyata
pohon-pohon musim gugur
kembali lahir dari rahim
kata manusia yang menari-nari
mencari makna.
 
2023

SAJAK YANG LAIN
: dipengaruhi Mahmoud Darwish

 
Masih tersisa dari kata
dalam puisi-Mu yang kalah
 
Suara-Mu mewujud di sisi luka
yang mikraj,
 
menggembala
doa-doa
dengan angin musim gugur
yang menggapai kesuburan
fatamorgana,
 
Diledek udara
sampai kematian menyeru
manusia untuk pulang,
 
Bersama-Mu
--berasama puisi-Mu
 
2023

Baca juga Puisi-Puisi Ahmad Rizki lainnya.

SEBUTIR PASIR
: dipengaruhi Mahmoud Darwish

 
Barangkali, puisi satu-satunya keadilan
yang berdiri di balik kecamuk panjang
mengukir hati, kematian dalam keanehan
puisi begitu riang suaranya
sebutir pasir kebenaran yang muskil diterka
dan tak pernah didengar suaranya
selain keheningan yang berwajah penderitaan
 
2023

TASLIM
--tilka aayaatul-kitaabil-mubiin

 
Telah kubaca nama-Mu
dari makna yang rahasia
dari bulat udara di dunia
dan seolah-olah sunyata
o, amat nyata!

Hasta dan jarak itu sekadar istilah
dan apa berharganya waktu hidup manusia?
itu jelas, karena telah kubaca beberapa nama.
 
Telah kubaca wajah-Mu
dari hati manusia yang lugu
bersemayam di mutmainah
namun, tidak sebenar-benarnya pasrah
manusia membaca
--saling membaca--
di antara keramaian yang celaka
 
Langkah yang tak terarah ini
menuju ke mana entah
tapi terus berjalan
dan sungguh-sungguh berjalan
dalam keraguan yang sentosa
 
Telah kubaca nama-Mu
dari makna yang rahasia
dari bulat udara di dunia
dan seolah-olah sunyata
o, amat nyata!

Kata-kata yang berdusta
bermukim di udara, di kepala
--di jiwa--
curiga! putus asa!
Itu jelas, karena beberapa nama
muncul sebagai sosok manusia!
 
Manusia ke sana-sini
membaca itu-ini
melihat itu-ini
di luar-dalam
di kebahagiaan-kekalutan
sambil terengah-engah menuju tiada
 
Maka, telah kubaca nama-Mu
dari makna yang rahasia
dari bulat udara di dunia
dan seolah-olah sunyata
o, amat nyata!
Walau kenyataan itu tak ada.
 
2023

 
Ditulis oleh Ahmad Rizki. Lahir di Tangerang 1999. Alumnus Sastra Indonesia, UNPAM. Saat ini tengah sibuk menggelandang, membersamai, dan menikmati hidup di sekitran Ciputat. Beberapa puisi omong kosongnya kebetulan termaktub di media daring dan cetak. Buku puisi yang terlanjur terbit, Sisa-Sisa Kesemrawutan (2021) dan Sebuah Omong Kosong Cinta Masa Remaja (2022). Informasi tambahan dapat ditemui di kanal Instagram @ah_rzkiii

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment