Perempuan di Titik Nol; Sebuah Perlawanan atas Tirani Patriarki

“Bagaimanapun juga, saya hanyalah seorang pelacur yang sukses. Dan betapapun juga suksesnya seorang pelacur, dia tidak pernah dapat mengenal semua lelaki. Akan tetapi, semua lelaki yang saya kenal, tiap orang di antara mereka, telah mengobarkan dalam diri saya hanya satu hasrat saja; untuk mengangkat tangan saya dan menghujamkan ke muka mereka. Akan tetapi, karena saya seorang perempuan, saya tak pernah punya keberanian mengangkat tangan saya. Dan karena saya seorang pelacur, saya sembunyikan rasa takut itu di bawah lapis-lapis solekan muka saya.” (Nawal El-Saadawi h.16)

Kutipan di atas merupakan sebuah kritik yang menjadi awal cerita kelam sosok Firdaus dalam novel Perempuan di Titik Nol yang ditulis Nawal El-Saadawi. Novel ini merupakan sebuah kisah nyata yang berangkat dari balik jeruji besi yang begitu rapat.

Firdaus- sosok tokoh utama dalam cerita ini divonis hukuman gantung karena telah membunuh seorang germo. Namun, di dalam penjara itu ia tak sedikit pun merasa gentar akan kematian. Ia menyambut dengan penuh kegembiraan hukuman gantung itu. Ketika dokter penjara menyarankan agar mengajukan grasi kepada presiden, ia dengan sikap tegas menolaknya. Firdaus beranggapan bahwa vonis itu justru menjadi satu-satunya jalan menuju kebebasan yang sejati.

Katanya, “Setiap orang harus mati. Saya lebih suka mati karena kejahatan yang saya lakukan daripada mati untuk kejahatan yang kau lakukan.”  (hlm. 169)

Ia megisahkan kepada Nawal tentang segala tragedi yang dialaminya. Tentu bukan sebuah tragedi yang melankolis ataupun kemesraan apalagi harmonisme yang akan membawa dirinya terbang ke dalam sebuah bayang-bayang keindahan kala malam dihiasi rona manis rembulan. Bukan. Ia mengisahkan banyak hal tragis dan ironis. Ia memuntahkan segala tragedi yang dialaminya sedari masa kecil di desa sampai menjadi pelacur kelas atas di kota Kairo.

Firdaus telah (di)hancur(kan) sejak masa kecil di tengah budaya patriarki. Ia hidup dalam keluarga miskin. Segala keterbatasan yang melingkupinya membentuk Firdaus menjadi sosok penurut. Sedari kecil, ia selalu membantu ibunya mengais gandum, mengambil air, dan memberikan makan untuk ternak di kebun. Semenjak kanak-kanak pula ia merasakan dan melihat sosok ayah diperlakukan seperti seorang raja oleh istri dan anak-anaknya. Seorang laki-laki (ayah) diperlakukan sebagai individu nomor satu dan sosok perempuan diperlakukan nomor dua atau dianggap sosok ‘yang lain’.

Dalam novel ini, Nawal menggambarkan nuansa patriarkis yang begitu kental dalam kehidupan Firdaus. Seusai ibunya meninggal, Firdaus lebih sering mendapati kekerasan dari ayahnya. Ia dibiarkan kelaparan dan selalu diminta membasuh kaki ayahnya ketika merasa kedinginan. Ayahnya mencipta identitas Firdaus sebagai pelayan rumah tangga pengganti ibunya dan melanggengkan bawah perempuan adalah sosok ‘yang lain’ atau sosok liyan (meminjam kata Beauvoir).

“Ketika saya bertambah besar sedikit, Ayah meletakkan mangkuk di tangan saya dan mengajari bagaimana cara membasuh kakinya dengan air. Sekarang saya telah menggantikan ibu untuk melakukan pekerjaan yang biasa dilakukannya. Ibu tidak ada lagi, malahan seorang perempuan lain yang memukul tangan saya dan mengambil-alih mangkuk itu. Ayah berkata, bahwa dia adalah ibu saya.”

Firdaus telah (di)hancur(kan) sejak masih kecil. Hanya kata itu yang sekarang berada di dalam kepalaku kala berselancar di samudera emosi Firdaus. Bagaimana tidak, ditengah kemiskinan dan budaya patriarki seperti itu, keperawanannya pun direnggut oleh teman semasa kecilnya sendiri. Tak lama dari kejadian itu orangtuanya meninggal, lalu Firdaus diasuh oleh pamannya, seorang mahasiswa Al-Azhar di Kairo.

Kehidupan Firdaus tidak berubah, justru ia menjadi objek dari pamannya sendiri. Ia sering mendapatkan pelecehan seksual. “Saya melihat tangan paman saya bergerak-gerak di balik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki saya. Saat berikutnya saya merasakan tangan itu menjelajahi kaki saya sampai paha dengan gerakan yang gemetar dan sangat berhati-hati. …. Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan lebih dari itu.” (hlm. 20)

Perlakuan dari pamannya tersebut yang pada akhirnya membentuk identitas Firdaus menjadi perempuan lacur. Di sana, Firdaus seringkali disetubuhi oleh pamannya, namun ia tidak berani mengadu kepada siapapun. Di samping rasa takut, ia beranggapan bahwa pengorbanan pamannya lebih besar daripada perlakuannya itu. Ia berpikir seperti itu karena disekolahkan oleh pamannya. Firdaus adalah sosok yang pandai, ia mendapatkan peringkat kedua disekolahnya dan ketujuh di seluruh negeri.

Ketika Firdaus menginjak usia remaja, ia dijodohkan oleh pamannya kepada sosok lelaki tua pensiunan yang berperangai kasar dan kikir, Syekh Mahmoud. Otak dari perjodohan ini adalah istri pamannya sendiri yang dasarnya materialis. Firdaus ditukar dengan mahar sangat mahal. Awal mula kehidupan rumah tangganya berjalan baik, namun lama-kelamaan Firdaus seringkali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Tak lain, lagi-lagi karena Firdaus adalah seorang istri dan perempuan. Di tengah budaya patriarki yang kental, kekerasan atau perlakuan kasar suami terhadap istri dianggap lumrah. Pamannya sendiri pun pernah bercerita jika ia sering memukul istrinya. Dalihnya adalah kewajiban seorang istri ialah kepatuhan yang sempurna.

Pada suatu peristiwa, suaminya memukul badan Firdaus dengan sepatu. Muka dan badannya menjadi bengkak dan memar. Lalu Firdaus memutuskan pergi dari rumah dengan membawa ijazahnya. Ia berharap bisa melanjutkan hidup bermodalkan ijazah tersebut.

Di sebuah kafe ia bertemu dengan Bayoumi, (singkat cerita) ia memutuskan tinggal bersamanya. Pada awalanya Bayoumi sosok lelaki baik, sopan, dan perhatian. Namun, ia tetap sama saja, seperti ayah dan suaminya, suka memukul dan berbuat asusila. Lagi-lagi Firdaus kembali dijadikan objek seksual, ditindas, dan diperlakukan sewenang-wenang.

Firdaus beberapa kali dipaksa untuk melayani hasrat Bayoumi. Mereka berlaku layaknya suami istri. Sikap Bayoumi yang seperti itu membuat dirinya tidak nyaman. Lantas Firdaus memberontak pergi, meski beberapa kali ia menerima siksaan.

Dalam pelariannya mencari kemerdekaan diri, Firdaus bertemu dengan perempuan cantik, Syarifa Saah el Dine. Syarifa sangat pandai mengungkapkan hal yang jarang dibicarakan sebelumnya bahwa Firdaus perempuan cantik, terpelajar, dan punya harga yang tinggi. Pertemuan inilah yang menjadi titik balik atau awal mula Firdaus memulai karier sebagai pelacur.

Di tangan Syarifa, Firdaus menjadi pelacur. Ia diberikan penghidupan yang sangat layak dengan segala fasilitas, seperti pakaian, tempat tidur, makan, dan segala yang menghadirkan kenyamanan. Kehidupan Firdaus berubah. Hari-harinya habis untuk melayani setiap lelaki. Namun, Firdaus adalah sosok professional, ia tidak mencapuradukkan antara pekerjaan dan perasaan atau hatinya.

Pada suatu ketika, Firdaus disadarkan oleh seorang lelaki bahwa ia hanya menjadi mesin pencetak uang bagi germo yang telah memanfaatkan kecantikannya. Perkataan itu menyadarkan Firdaus, lalu ia kembali pergi meninggalkan kasur empuk tempat melayani setiap lelaki yang ingin melampiaskan nafsunya. Ia kembali memulai hal baru.

Berbekal ijazahnya, ia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan. Gajinya hanya cukup untuk menyewa kamar di sebuah perkampungan. Sebelum berangkat kerja, setiap pagi ia harus antri ketika akan mandi. Ketika berangkat kerja ia harus rela berdesak-desakan dengan penumpang lain di kendaraan umum yang ditumpanginya. Sampai pada suatu peristiwa, ia mengenal Ibrahim, ketua komite revolusioner di perusahaan. Firdaus pun terpesona, ia jatuh cinta.

Ia merasakan nuansa yang luar biasa usai perjalanan hidup yang begitu gelap. Dunianya pun kembali berseri, mentari dan rembulan kembali bersinar indah dalam setiap langkah hidupnya. Namun, semua itu menjelma menjadi semu dan sendu. Firdaus patah hati. Ibrahim, sosok yang sangat dicintainya menikah dengan anak gadis presiden direktur.

Ia memutuskan menjadi pelacur lagi. Firdaus beranggapan “Lelaki revolusioner yang berpegang pada prinsip-prinsip sebenarnya tidak banyak berbeda dari lelaki lainnya. Mereka mempergunakan kepintaran mereka dengan menukarkan prinsip mereka untuk mendapatkan apa yang dapat dibeli orang lain dengan uang. Revolusi bagi mereka tak ubahnya sebagai seks bagi kami. Sesuatu yang disalahgunakan. Sesuatu yang dapat dijual.” (hlm. 145)

Luka batin menghujam Firdaus dengan deras dan bertubi-tubi. Pikirannya pun sesak dengan emosi dan segala keriuhannya. Baginya, menjadi pelacur sukses lebih baik daripada seorang suci yang sesat. Di jalan lacurnya kali ini, ia bisa membeli apartemen dan menerima bayaran paling tinggi. Rekan-rekan kencannya merupakan sosok terpandang di dalam dan di luar Mesir.

Lagi dan lagi, kehidupan Firdaus kembali dalam samudera yang penuh gelombang saat ia diminta menikah dengan seorang germo. Firdaus awalnya menolak, namun karena terpaksa dan berbagai hal yang melingkupinya, dengan sangat berat hati ia menerima. Bersama berjalannya waktu, Firdaus pun merasa terjebak dengan keadaan. Ia bosan dengan perlakuan yang sewenang-wenang. Firdaus kembali memutuskan untuk melarikan diri.

Sialnya, saat ia ingin meninggalkan rumah, germo itu sudah berada di depan pintu. Mereka pun bertengkar. Emosi mereka saling memuncak. Germo itu mengambil pisau di kantongnya. Firdaus terancam. Namun, yang terjadi sebaliknya. Firdaus mampu menangkis pisau yang diarahkan ke tubuhnya dan membalikkan arah ke tubuh germo. Pisau itu menghujam berkali-kali di dada, perut, dan leher si germo. Alhasil, germo itu meninggal. Firdaus pun meninggalkan tempat itu untuk menyelamatkan diri dari hukum.

Selang beberapa waktu, Firdaus kembali diminta berkencan dengan seorang pangeran. Pada kencan ini, Firdaus menceritakan jikalau dirinya telah membunuh germo. Firdaus meyakinkan bahwa dirinya bukan penjahat, ia hanya membunuh penjahat. Namun, pangeran tidak percaya. Firdaus pun kesal, lantas ia menampar muka pangeran dengan begitu keras. Pangeran itu naik pitam dan merasa dirinya sedang berada dalam sebuah ancaman.

Firdaus dilaporkan ke polisi dan akhirnya mendekam di penjara. Hukuman yang dijatuhkannya seumur hidup sebab ada ketakutan jika dibebaskan ia akan membuka banyak kedok dan kebusukan mereka. Pada dasarnya, Firdaus bisa bebas dengan mengajukan grasi kepada presiden. Namun, Firdaus enggan dan berkata “Jika saya keluar lagi dan memasuki kehidupan yang menjadi milikmu, saya tidak akan berhenti membunuh.”

Firdaus pun dijatuhi hukuman gantung. Firdaus bahagia dengan hukuman itu, sebab ia menemukan jalan menuju kemerdekaan dan kebebasan yang sejati.


Tentang Novel Perempuan di Titik Nol

Perempuan di Titik Nol ini sangat bagus untuk dibaca. Penulis mampu membawa pembaca kedalam ruang Firdaus. Seolah-olah pembaca menjadi tokoh utama dan menikmati alur cerita yang sangat gamblang dan menarik. Hal ini mungkin dikarenakan Nawal mengemas cerita dengan minim dialog dan lebih menghidupkan pada monolog. Hanya saja ketika pembaca jarang membaca novel terjemahan maka harus berpikir dua kali untuk meneruskan setiap bab yang disajikan. Terlebih alur yang disajikan Nawal bersifat maju-mundur dan banyak pengulangan kalimat.

Identitas Buku

Perempuan di Titik Nol adalah sebuah buku terjemahan yang diterbitan oleh Yayasan Pustaka Obor Indonesia yang saat itu sedang concern mengangkat karya-karya sastra dari negara berkembang, termasuk Arab. Cetakan pertama buku ini yakni Agustus 1989 dan cetakan ke empat belas diterbitkan pada Maret 2019.

Buku berukuran 11 x 17 cm dengan ketebalan xxiv + 176 halaman ini ditulis dengan judul asli Woman at Point Zero oleh seorang penulis feminis, Nawal El-Saadawi.  Novel yang diterjemahkan oleh Amir Sutaarga dan diberikan pengantar oleh Muchtar Lubis ini dijamin akan membakar hati dan pikiran siapapun yang membacanya. Jika tidak percaya coba baca saja, lalu rasakan bara yang akan menganga. 

*Redaksi

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment