Perempuan-perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX karya Peter Carey

Eksistensi perempuan merupakan bagian penting dari sebuah masyarakat, bangsa, negara, dan komunitas manusia. Sampai saat ini, setiap kepala masih disesaki dengan wacana bahwa perempuan dianggap sebagai orang belakang yang hanya menguasai dapur, sumur, dan kasur. Perempuan seringkali dianggap sosok 'yang lain' atau sosok 'Liyan' (meminjam kata Beauvoir). 

Selain itu, perempuan seringkali menjadi kaum yang terpinggirkan dan selalu dibatasi geraknya di wilayah domestik. Namun, tidak dapat dipungkiri jika perempuan pun mampu berkompetisi di dunia atau wilayah publik, meski kekuatan dan kuasa didominasi oleh laki-laki atau di bawah cengkerama patriarkis.

Perempuan-perempuan Perkasa Jawa merupakan salah satu buku sejarah karya Peter Carey dan Vincen Houben yang berisi perempuan di Jawa pada abad XVIII hingga abad XIX. Masa itu sering disebut sebagai era pemerintahan kolonial yang sesungguhnya (high colonial period). Tepatnya, antara sebelum Perang Jawa (1602) hingga menjelang peralihan kekuasaan Jepang (1942).

Buku ini membingkai Perang Jawa dalam narasi-narasi perempuan. Carey mengawali bukunya dengan peribahasa klasik, “Tangan yang menggoyang ayunan menggerakkan dunia! (Tangan yang mengayunkan ayunan menggerakkan dunia!)” Menurut Carey, peribahasa yang relevan untuk perempuan Jawa seharusnya, “Tangan dengan gendongan kain jarik menggerakkan dunia!”.

Pada tahun sebelum Perang Jawa (1925-1830) meletus, peran perempuan Jawa sangat menentukan diberbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, militer, budaya, keluarga, dan kehidupan sosial istana Jawa Tengah Selatan.

Carey dalam bab pertama bericara mengenai ‘Sosok Perempuan Jawa dalam Sastra Kolonial Hindia Belanda’. Ia menunjukkan bagaimana sastra mengonstruksi identitas orang Jawa het zachste ter aarde, bangsa yang paling lembut di dunia. Pandangan tersebut gamblang dalam karya Lousi Couperus, De Stille Kracht (1909) dan karya JB Ruzius, Heilig Indie (1905).

Kedua karya tersebut menggambarkan sosok Raden Ayu sebagai boneka yang tersenyum simpul dan meniadakan diri. Selain sosok Raden Ayu -boneka dalam sastra Hindia Belanda, di lain sisi terdapat pula perempuan biasa yang berjuang untuk bertahan hidup. Ada pula perempuan elit yang sudah berusia lanjut sehingga sangat dihormati dan mempunyai wewenang sebagai kepala keluarga.

Satu tema yang sangat digemari oleh sastrawan Hindia Belanda adalah khayalan mereka tentang dunia Timur sebagai surga hiburan sensual, gairah seks yang tidak akan luntur. Salah satu tema dalam roman De Stille Kracht karya Couperus tentang bagaimana pengaruh kekuatan dunia malam—ketidakberdayaan dan nafsu seks—yang mampu mangalahkan akhlak orang Eropa yang berkarakter tinggi.

Pada bagian kedua Carey mendedahkan citra perempuan dalam jagad pewayangan. Dalam subbab tersebut ia memberikan perbedaan mengenai figur perempuan dalam karya sastra Belanda yang kontras dengan perempuan dalam lakon pewayangan. Pada bagian yang sama ia memberi contoh sosok perempuan dalam sejarah Jawa terutama pra-kolonial. 

Dalam dunia wayang tidak terdapat sosok Raden Ayu yang tersenyum dan berkepala kosong seperti yang digambarkan oleh sastrawan Belanda. Justru, perempuan-perempuan memiliki sifat berani dan perkasa yang sama seperti suaminya, seperti dalam lakon Mahabarata dan Ramayana.

Salah satu tokoh yaitu Dewi Sumbadra, istri Arjuna, sebagai perempuan impian yang menjadi wadah kesaktian dan penerus warisan leluhur. Sumbadra mencerminkan peran kunci perempuan Jawa sebagai pangabsah wangsa. 

Seperti yang dicontohkan dalam buku tersebut terdapat Ken Dedes, Ratu Singosari, istri Ken Arok, Raja Singosari pada awal abad ke-13 dan Dewi Mundingsari, putri dari kerajaan Padjadjaran, anak kedua Raja Sigaluh. Menurut Serat Sakondhra, Dewi Mundingsari menikah dengan Raja Spanyol, Baron Sukmul, Ibu dari Gubernur Jendral Belanda, Jan Pieterszoon Coen atau dalam babad-babad Jawa (1578-1629) disebut sebagai “Mur Jangkung”.

Dalam epos Mahabarata, lima bersaudara Pandawa mengadikan diri mereka pada perempuan yakni ibu mereka, Kunti dan istri bersama mereka, Drupadi. Pengaruh epos Mahabarata gamblang sekali, buktinya setiap kali ada perempuan hebat dan berprestasi di negeri ini, lazim dijuluki Srikandi.

Mitos-mitos di Jawa pun berlimpahan sosok perempuan, seperti Nyi Roro Kidul dan Dewi Sri. Perempuan Jawa dimistikkan, perempuan dalam mitos dikultuskan. Misalnya, pengunjung Pantai Parangtritis yang tidak berani memakai pakaian warna hijau. Konon, siapa pun yang nekat berenang dengan pakaian hijau, bakal diseret Nyi Roro Kidul ke dalam istananya yang berada di dalam laut.

Hal tersebut menunjukkan adanya sebuah keperkasaan bernuansa mistis yang dikeramatkan oleh orang Jawa. Maka, pada abad ke-18 dan awal abad ke-19, sering diadakan upacara pujian untuk mengambil hati Dewi-Dewi Perkasa seperti Batari Durga dan Nyi Roro Kidul.

Tokoh tersebut secara khusus ditonjolkan oleh Carey dalam buku yang agak tipis dengan beberapa gambar ilustrasi. Carey menyebut dua nama yang disebut sebagai ‘Srikandi’ awal abad ke-19, yakni Raden Ayu Yudokusumo dan Nyai Ageng Serang. Bukan perempuan sembarangan, Raden Ayu Yudokusumo adalah putri Sultan Yogyakarta pertama, sedangkan Nyai Ageng Serang merupakan mantan istri Sultan kedua. Merekalah panglima perang dalam sejarah Jawa yang oleh Gerhadus Valck diberi label sadis sebagai ‘perempuan yang sangat mampu bertindak kejam’. (hlm. 27)

Dari kedua topik di atas nampak sekali keduanya saling bertolak belakang. Dimana sastrawan Belanda menggambarkan perempuan seperti boneka kayu yang berkepala kosong. Hal tersebut secara tidak langsung menganggap bahwa seorang perempuan hanyalah sebuah mainan tak berguna.

Sedangkan dibagian kedua memuat hal yang sangat berbeda sekali dengan bagian pertama. Bab ini menggambarkan perempuan Jawa yang tangguh layaknya Srikandi, namun tetap anggun. Dalam bab ini yang sangat menonjol adalah bagian awal kolonial Eropa sampai di Nusantara. Kepercayaan pra-kolonial sangat kental akan eksistensi kekuatan seorang perempuan pilihan ‘Ardhanariswari’.

Bagian penting lainnya dari banyaknya bagian-bagian penting di dalam buku Carey adalah peran perempuan sebagai pemelihara pertalian wangsa. Carey menulis, “… fungsi utama putri raja dan bangsawan keraton adalah sebagai pemelihara dinasti atau wangsa dan sebagai wadah untuk berprokreasi… mereka meningkatkan hubungan kekerabatan antara raja dan keluarga terkemuka kerajaan, dengan mengikat istana dalam suatu jaringan intim dengan pedesaan Jawa melalui ikatan kekeluargaan yang luas. ” (hlm. 45) Keberlanjutan dinasti ditentukan oleh pewaris yang terbentuk dari pergulatan di 'gua garba'.

Identitas Buku

Perempuan-Perempuan Perkasa di Jawa Abad XVIII-XIX merupakan sebuah buku karya Peter Carey dan Vincent Houben yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Cetakan pertama buku ini yakni pada Maret 2016 dengan nomor ISBN 978-602-628-16-3. Buku berukuran 13,5cm x 20cm ini memiliki ketebalan XIV +114 halaman dan dijual dengan harga Ro50.000,00.

*Redaksi

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment