Segaun Rerinduan dan Udyana di Tengah Sabana [Part II]

Ruang itu tak lain adalah udyana.

Ruang bisa saja berubah setiap saat seiring dengan berjalannya waktu pun tumbuh kembangnya ekosistem di belantara ruang tersebut. Terlebih ruang itu merupakan salah satu bagian dari ruang yang begitu luas. Namun, ruh yang hidup, dihidupkan, dan dihidupi di dalam ruang tersebut akan tetap sama. 

Ruh tidak terbatas pun terpengaruh oleh bentang ruang dan waktu. Meski tak dapat dipungkiri akan adanya sebuah perjalanan dimana ruh dalam sebuah ruang akan mengalami sublimasi dan abrasi-abrasi dari sebuah energi tertentu, baik yang disadari atau tak disadari. Hal yang harus disadari yakni ruh hidup melalui bahkan melampaui gelombang.

Ia pun tangguh melawan dentuman-dentuman yang dipaksa dihadirkan, terlebih hadirnya untuk menghantam. Ia sangat tangguh. Tak terkalahkan. Hanya saja kadang diri yang menghidupi ruh itu merasa kalah karena kurang memiliki kepercayaan diri atas kekuatan dari ruh tersebut atau mungkin karena diri tidak menyadari potensi besar di dalam diri sendiri yang mampu menjadi dinding-dinding pertahanan atas segala dentuman dan hantaman. 

Rasa ketidakpercayaan dan ketaksadaran atas potensi diri tersebut yang akan membawa diri benar-benar menjadi kalah. Sebab, diri sudah terjebak dalam sebuah perspektif bahwa dirinya lebih kecil daripada apa yang datang tersebut. Sedang di sisi lain, sesuatu hadir dan datang tak lain sebagai bahan ujian atas keyakinan dan keistikamahan diri dalam menghidupi sesuatu itu sendiri.

Sadar tidak sadar, ia pun mengantarkan jiwa-jiwa yang menghidupi gelombang dalam setiap perjalanan jiwanya kala menapaki setiap lekuk belantara yang penuh dengan duri, ranjau, dan racun-racun -yang bisa saja ditaruh di dalam cangkir-cangkir kopimu- tanpa engkau ketahui pun sadari. Kali ini, kewaspadaan dan kejelian adalah modal utama untuk bertahan hidup. 

Selain itu, diri pun harus pandai-pandai meng-iqra’-i ragam pementasan dengan segala kemungkinan-kemungkinan dibaliknya. Terlebih belantara itu kini kian tumbuh besar dan subur, tak dapat dipungkiri jika akan banyak tanaman yang ditanam di sana. Bisa jadi pula, di belantara udyana itu ada petani atau pekebun yang memiliki otot pun kecerdikan lebih darimu, lalu menanam jenis tanaman baru yang masih asing di dalam pengetahuan pun pengalaman dirimu kala menjadi petani atau pekebun di salah satu ruang belantara udyana itu.

Ah, sialan. Ini kenapa mbladrah kemana-mana. “Kepala, tolong sejenak fokus. Jangan terjebak pada sebuah kemungkinan-kemungkinan atau ketidakmungkinan-ketidakmungkinan -yang bisa jadi mungkin atau tidak mungkin- yang tanpa bosan bergentayangan dalam ingatan dan membuatmu ditenggeri kegelisahan. Kepala, please, sejenaklah menepi, dan kembali bersamadi di ruang pertapaan yang transedental ini.” bisikku pada kepala yang seringkali berontak pada diriku sendiri. Sialan!

Lagi dan lagi, perkara hidupnya sebuah ruang, pada dasarnya bisa diputuskan: berlanjut hidup agar lebih hidup atau tidak menghidupkannya. Dan pilihan yang paling simpel dan tidak membutuhkan kerepotan-kerepotan sistematis dan prosedural adalah tidak menghidupkan. Diri cukup bermodal mematikan rasa, moralisme, dan memutilasi afektif di dalam jiwa pun pikiran. Atau lebih mudah lagi hilangkan esensi dalam setiap buah dari ruang tersebut.

Sederhana kan? Ah, semua memiliki jawabannya sendiri-sendiri, dan aku tak memiliki hak untuk memukul rata sebuah jawaban. Sungguh bodohnya diriku jika memukul rata begitu saja. 

Hidup pun merupakan sebuah perjalanan panjang menemukan jawaban-jawaban dan melahirkan pertanyaan-pertanyaan atas jawaban yang telah dijumpainya untuk menemukan jawaban-jawaban lain yang juga akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru lainnya. Begitulah ekosistem pengetahuan bekerja. Tapi hal yang nampak sederhana terkadang tidak sesederhana apa yang dipikirkan pun dibayangkan. Terkadang ia malah lebih ruwet daripada keruwetan-keruwetan yang diri pikirkan dan rasakan saat ini.

Setiap keputusan atau pilihan pasti melahirkan konsekuensi-konsekuensi baik jangka panjang, menengah, atau jangka pendek, baik bagi diri sendiri atau sesuatu yang berada di luar diri. Kala keputusan tak menghidupkan yang dipilih, diri pun harus mempersiapkan pondasi yang kuat dan dinding-dinding pertahanan stabilitas psikologis untuk mengantisipasi suatu hal di hari mendatang jika ada gelombang atau dentuman yang tetiba hadir. 

Terlebih yang hadir adalah serumpun spesies yang berjuang melepaskan pakaian-pakaian konvensionalnya lalu menarik dirinya ke dalam sebuah pemikiran-pemikiran yang mungkin akan sulit dieja dan ditebak arahnya untuk mendapatkan esensi dari apa yang ditelisik pun diperjuangkannya. Spesies yang ingin memahami sesuatu dan mencoba menghidupi perasaan mendalam terhadap kuasa pun historis dari sesuatu itu sendiri dengan tujuan memahami detail pun kegamblangan dari sesuatu itu sendiri. Kemurnian.

Spesies tersebut bukanlah spesies yang sebatas ingin menengok untuk bernostalgia atau merenungi surga yang telah hilang, atau memandang ke depan dengan sebuah pengharapan yang lebih baik. Bukan.

Di sisi lain, dalam setiap perjalanan pasti ada mata tak lagi bisa leluasa memandangi dan raga tak lagi bisa menyinggahi ruang itu. Namun, ruh tetap mengantarkan dan selalu menemani diri menapaki jalan penempaan jiwa yang pernah diajarkan oleh suatu gelombang ruh di dalam ruang tersebut. 

Mungkin, di hari-hari yang kian baik ini, mata tak lagi bisa saling bertatap, bahkan ada yang belum pernah saling menatap. Namun, berbekal kekuatan gelombang yang hadir dan ada, semua saling terkoneksi dalam pusara jiwa. Mereka hidup dalam satu ruang cinta yang dihidupi dan menghidupi ruh itu sendiri. Gelombang-gelombang yang terus berpusara di dalam jiwa para pejalan itu pun akan melahirkan gelombang-gelombang kesadaran yang tak terbendung. Ya, kesadaran akan adanya ruh yang terus hidup.

Kesadaran merupakan sebuah perjalanan yang akan menjadikan semburat ruhnya dalam perjalanan waktu kian merona, melebihi bercak cahaya yang pernah ada di dalam ruang itu. Semua pasti berharap sama; dalam setiap perjalanan sebuah ruang selalu menghadirkan keindahan-keindahan tersendiri yang saling melengkapi keindahan yang pernah ada dan hadir. Namun, kesadaran akan adanya ruh tersebut adalah sesuatu yang harus kita renungkan dan tanyakan kembali ke dalam diri kita.  

Masihkah adakah ruh di udyana? Masihkah ingin dihidupikah? Jika iya, masih perlukah diri kita sejenak singgah di pendapa atau gazebo menikmati secangkir kopi dan menikmati setiap kolesterol yang disajikan dalam gorengan-gorengan kemesraan secara bersama-sama sembari berbicara mau kemana kita?

Ah, sebelum berbicara tentang pendapa atau gazebo dengan segala harmonisme pun keindahan-keindahan yang sedang menyinggahi angan, aku ingin sejenak berdiskusi kepada diriku sendiri. Aku ingin bertanya kepada diriku sendiri tentang kegelisahan yang seringkali tanpa tata krama membombardir pikiran.

“Masih sempatkah kita berjalan menyusuri setiap sisi dan lorong dari bilik-bilik tendensi untuk mencari pendapa atau gazebo? Ataukah lebih baiknya ikut dengan produk wacana tendensius yang akan mengantarkan diri pada sebuah persepsi dan perspektif akan pentingnya membangun bilik-bilik agar sebuah historis kekuasaan langgeng dengan kuasa yang dibangunnya dalam setiap pikiran yang di hinggapinya? Bukankah akan jauh lebih harmonis jika kita sejenak duduk menikmati secangkir kopi dan haha hihi mencari sebuah keabadian atau kemesraan-kemesraan yang akan dilahirkan oleh pendapa atau gazebo yang hilang? Ataukah kita akan terus menikmati penguburan dalam kefanaan yang tak disadari digerakkan oleh tendensius keakuan itu sendiri?”

Entahlah. Waktu akan bercerita dengan sendirinya. Di hari yang baik ini, alangkah lebih syahdunya kita menikmati secangkir kopi dan menghayati energi semesta yang sangat baik ini sembari menghidupkan angan pun bayang jika di udyana itu bilik-biliknya dipugar, lalu dibangun pendapa atau gazebo yang menjadi ruang duduk melingkar bersama-sama untuk sinau bareng dan kembali belajar atas pondasi yang diri pijak dan tatapan hari esok yang pernah kita semai dan mimpikan bersama-sama di udyana ini. Ah, pasti akan sangat nikmat dan syahdu sekali. Diskursus atas ruh pun akan turut serta mengalir deras.

Dari bilik sunyi, aku memandang udyana itu kian beragam bebungaan yang ditanam. Harap para petani rerinduan yang dulu turut berkebun di udyana itu, seluruh ruang akan harum dan dipenuhi keindahan-keindahan. Lalu lalang orang yang seringkali melewati udyana tanpa melirikan matanya sedikit pun akan memilih untuk sejenak menyinggahi. Bisa jadi mereka akan candu dengan nuansa yang dihadirkan udyanaSemua akan merindu keindahan-keindahan dan tabur wewangian dari ragam kelopaknya yang indah. Terlebih di tengah sesaknya kepala, ruang gerak, dan debur ombak yang membasahi singgasana pun panggung pementasan kehidupan yang makin brengsek dan menggemaskan ini.

Memang, dalam merawat udyana yang kian banyak bebungaan pun tanaman akan banyak menguras energi, waktu, pun pikiran. Potensi lahirnya hama pun akan makin banyak. Para pekebun membutuhkan kejelian, kesabaran, pun kesungguhan lebih untuk mengantisipasi serangan ragam hama yang tidak tahu kapan datangnya, dari sisi mana akan menghinggapinya. Di sisi lain, para pekebun harus memiliki keamanan yang lebih kuat untuk mengantisipasi perilaku atau sesuatu hal yang kurang berkenan dari pekebun-pekebun lain di ruang itu.

Teruntuk para pekebun udyana, jangan pernah lelah menjaga, merawat, dan menghidupi udyana. Jika ingin hidup di udyana jangan hanya ingin menumpang ketenaran karena keindahan yang disajikan, jangan hanya ingin menikmati apa yang ada namun wakafkanlah dirimu untuk menjadi pekebun yang benar-benar berkebun untuk udyana. Perkara apa yang akan didapatkan dari udyana, biarkan alam semesta yang bekerja untukmu pun memperjalankanmu.

Jika lelah berkebun, sesekali berjalan di ruang sunyi, peluk dirimu sendiri, dan bercengkeramalah dengan dirimu sendiri. Sesekali diri perlu bertanya mengapa diri memilih menyinggahi dan menghidupi udyana sampai sejauh ini, sedang di ruang itu banyak ruang-ruang lain. Mungkin, itu bisa menjadi salah satu cara sederhana menghilangkan rasa lelah yang singgah di dalam dirimu. Atau mungkin malah akan mengantarkanmu ke ruang memiliki yang benar-benar memiliki yakni kemurnian dari cinta itu sendiri.

Teruntuk kalian yang sudah singgah di sini, terima kasih. Goresan tinta kali ini tak lain adalah lanjutan dari goresan tinta waktu lalu yang bertajuk Segaun Rerinduan dan Udyana di Tengah Sabana [Part I] 

Ditulis oleh Pemulung Rasa.
Laki-laki kelahiran Magelang 
yang tengah berjuang menggelandang 
dan memulung rasa di jalan sunyi.

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

4 comments

  1. Bagus banget kak, andai aku bisa nulis sebagus itu 🥺
    1. Kalau kakak bersedia, boleh juga loh sedekah karyanya di sini, hehe

      Terima kasih sudah singgah di sini. Jangan lupa besuk sambangi lagi salik.id hehe
    2. Kalau aku berandai berarti tandanya aku gak bisa kak. Seharusnya aku yang dapet sedekah karya, nanti biar aku buat blog sendiri dengan sekumpulan karya2 orang 😛
    3. Pandai sekali kakak merendah. hehehe

      Blog salah satu anugrah atas ruang untuk saling berkumpul, bersilaturahmi, berbagi dan sinau bareng, Kak. heuheuheu