Seorang Gelandangan Di Pinggir Jalan Raya dan Sebuah Kado Pernikahan | Puisi-Puisi Ahmad Rizki

Puisi Seorang Gelandangan di Pinggir Jalan dan Sebuah Kado Pernikahan karya Ahmad Rizki


Sebuah Kado Pernikahan
: Buat Ikhwan dan Widya

Udara yang beredar di sekitar kita akan terasa nikmat
apabila kenyataan dan tujuan selaras dengan hidup.
Dan akhirnya
keinginan dan  putus asa sama saja,
ia sama-sama putaran waktu
yang turun dari langit
dan menyebar ke dunia.
 
Selamat menjalin cinta, kawanku.
Selamat untuk pernikahan
yang kau inginkan di masa muda
tanpa bahasa yang mewah.
Aku mengerti, kawan,
rencanadan takdir Tuhan terjadi begitu saja,
dan kenyataan menyapamu dengan lembut dan luar biasa.
 
Pernikahan,
barangkali seperti kematian, kawanku.
Kemudian, masa lalu dan masa depan
adalah sekadar pengetahuan hari ini.
 
Pengetahuan dan teori yang kita usahakan
hanya sebuah jangkauan insan yang terbatas dan sementara.
Tetapi, sekarang kita sama-sama sadari takdir
dan nasib bukanlah aib, kawanku.
Lalu kasih dan cinta
adalah alasan akan hidup yang fana.
Tenaga cinta yang masuk ke tubuh
Adalah ruh yang abadi dalam sejarah hidup di dunia.
 
Alhamdulillah, kawanku.
Apakah kau masih ingin dengar kado pernikahan untukmu?
Bukankah puisi sudah kau simpan di tubuhmu dan hatimu?
Puisi yang ada di hatimu
adalah semua pengetahuan yang tak terjangkau oleh manusia,
oleh tipu daya, oleh politik asmara,
oleh segalanya yang di lakukan manusia pada hidupnya.
 
Alhamdulillah, kawanku.
Sampai di sini apakah kau masih ingin membaca kado ini?
Masihkah kau ingat semua bahasa
yang tak kita sadari di mimpi
dan persimpangan masa depan?
 
Alhamdulillah, kawanku.
Harapan dan kenyataan sudah menyatu.
Harapan akan sebuah peradaban manusia
yang berkembang dan luas di antara hidup kita
lebih berharga dari cita-cita masa remaja yang bias dan penuh tipu daya.
Dan kenyataan terasa lebih bebas dari ruang dan waktu,
karena tak terbatas oleh pengetahuan manusia.
 
Udara yang beredar di sekitar kita akan terasa nikmat
apabila kenyataan dan tujuan selaras dengan hidup.
Dan akhirnya keinginan dan putus asa sama saja,
ia sama-sama putaran waktu
yang turun dari langit
dan menyebar ke dunia
menjadi cinta.
 
Ciputat, 7 Juni 2022

Hanya

Hanya padamu
kuserahkan jiwa dan raga,
nyawa dan apa saja.
 
Hanya padamu
kutumpahkan kesedihan dan kesengsaraan,
kupasrahkan hidup dan mati.
 
Hanya padamu
kudapatkan duka dan nelangsa,
kuterima sengsara dan air mata.
 
Hanya padamu
kuberikan cinta dan semuanya.
 
2018

Seorang Gelandangan Di Pinggir Jalan Raya

Pada sebuah sampah plastik dan koran bekas
di bawah tubuhnya,
kulihat senyummu.
Malam turun di jalan raya,
lampu kendaraan memuntahkan harapan di matanya.
 
Astagfirullah.
Senyum-Mu-kah itu?
Senyum yang kulihat
dari seberang jalan raya,
dan cahaya kendaraan tumpahke matanya.
 
Berhari-hari bulan dan matahari menikam,
tetapi tak kudengar tawa-Mu
dalam senyum-Mu,
tak kurasakan jalan terang
di sudut mata-Mu.
 
O, Allah! Jarang kudengar
ia nyanyikan lagu malam,
dan sedikitpun tak kujumpai
suaranya.
 
Pada sebuah sampah plastik dan koran bekas
di antara kepalanya,
ingin kujumpai-Nya sekali lagi.
Ketika sirene menjadi ancaman,
ia sempoyongan lari ke jalan lengang.
Kakinya lemas,
dan napas-Nya terengah-engah.
 
Astagfirullah.
Orang-orang di jalan,
puing pembangunan, sampah plastik,
papan iklan elektronik, senja,
purnama, matahari, hujan, dan
semuanya membentuk tubuhnya,
membentuk dirinya.
 
Pada sebuah sampah plastik dan koran bekas
diantara tubuhnya,
kini hanya penolakan.
Karena petugas membawanya pergi dari rumah
yang teduh dan bisu, seram dan menyenangkan.
Dan, nyanyian-Nya terdengar terulang sekali lagi,
"Aku hanya gelandangan tapi tak sedikit pun kau berikan harapan, Tuhan."
 
2018

Ketika Aku Cinta Padamu

Ketika aku cinta padamu,
mataku rabun, kupingku sepi,
bibirau bisu, dan nyawaku
melayang-layang ke dunia kanak-kanak.
 
Ketika aku cinta padamu,
oksigen sama pentingnya dengan dirimu,
peradaban tak lebih sempurna dari senyummu,
hamparan gurun pasir tak lebih luas dari dadamu,
gemerlap cahaya Eropa tak lebih berkilau dari warna rambutmu,
dan Asia tak lebih sempurna dari lekuk tubuhmu.
 
Ketika aku cinta padamu,
rasa duka dan bahagia sama saja,
bahkan tak kurasakan selain rasa cintaku padamu.
 
Ketika aku cinta padamu,
kemelaratan merenggut waktuku,
Indonesia tak lebih anggun dari bentuk wajahmu,
Jakarta tak lebih gemulai dari tarian malammu,
dan mengudaralah cintaku
di segenap kehidupan dunia.
 
Ketika aku cinta padamu,
nasib dan takdir
tak lebih berguna
dari cintaku padamu.
 
Dan, ketika aku cinta padamu,
aku hanya ingin mencintaimu
sampai malam mengangkat tubuhku,
sampai peradaban hilang masanya,
sampai semua makna jadi cinta,
sampai semua kehidupan hanya upaya mencintai dirimu.
 
2019

Bibirmu

Bibirmu bulan merah;
teduhkan malamku,
ia menyapaku lembut.
 
Bibirmu sungai deras;
mengalir ke taman jiwaku,
ia menyapaku tenang.
 
Bibirmu rumah dunia;
menenangkan gelisah kehidupan,
ia menyapaku lembut.
 
Bibirmu telah jadi obat;
menyembuhkan diriku,
iamenyapaku setiap hari.
 
2022

Ditulis oleh Ahmad Rizki. Kini menetap di Ciputat, Tangerang Selatan. Sibuk self-healing dan mendalami muara omong kosong di mana-mana. Beberapa tulisan omong kosongnya dimuat dalam media online. Karya yang telah dibukukan, Sisa-Sisa Kesemrawutan; Gelisah (Himpunan Sajak); Sajak Asbak. Informasi lebih lanjut dapat ditilik melalui Instagram ah_rzkiii


About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment