Ranting Zaitun dan Sepucuk Pistol | Mutia Alfi

Di malam yang panjang, Mimpi mereka mengawang, Bersenjatakan do'a meruang, Ingatlah, cinta akan menang, Menerjang segala wewangian,

Ranting Zaitun dan Sepucuk Pistol

Mata dunia tercekat sepi 

Rembulan mengintip ngeri 

Yang ditunggu, musim semi 

Sudah dirampas tak berperi


Ladang kurma, pucuk zaitun 

Rekahan bunga serta delima 

Dibakar tangan-tangan hitam

Di Yerusalem, maut adalah kawan 

Entah akrab sampai kapan


Anak-anak penuh cita, harapan 

Ditebas tengadahnya pada Tuhan 

Sehingga bercecer dan menggenang 

Membela kebun nenek moyang 

Tetapi bau mereka terkenang


Intifadha, pejuang hidup-mati 

Perwujudan sang gagah berani 

Mewangi siang seperti kesturi 

Walau terhembus bagai debu 

Tapi tak jemu menggaharu


Pelita di relung para pemuda 

Kafiyeh hitam-putih berkibar 

Garuda Fatah menggelegar 

Menerjuni medan tanpa senapan 

Abu-abu perak bertabur 

Sempurna jadi bunga tidur


Di malam yang panjang 

Mimpi mereka mengawang 

Bersenjatakan do'a meruang 

Ingatlah, cinta akan menang 

Menerjang segala wewangian


Dan lihat para tentara bersenpi 

Yang di ufuk Barat, poros setan 

Berdiri dengan kaki-tangan hitam 

Katakan bahwa ialah durjana 

Karna cinta kan temui jalannya

Cinta simpul matikan tenunnya 

Segera rebut panggung miliknya


Baca juga beragam PUISI karya para penyair.

Selubung Gharqad

Wahai bengis! 

Ya Zionis!

Kau rampas rumah dengan tragis 

Kau bunuh harapan penuh tangis 

Berteriak para jurnalis

Lalu membisu meringis


Katakan pada Netanyahu!

Di mana wajahmu?

Mana tanah asalmu?

Bukankah terbuang, menjadi nyalang? 

Tidakkah lelah, berkilah dari sejarah? 

Bintang itu saksi tak lengah!

Maka termaktublah!

Heidegger dan Hitler

Yang silam kau diburu susah payah


Tok...!

Palu diputuskan mematuk keadilan 

Terbukti, regulasi penuh ambisi, alibi 

Bersama Yahudi kau gemborkan tirani 

Marka busuk para munafik Nasrani


Kau pandir hadirkan berita

Kau juga yang sumpal media

Anti terorisme-islam phobia

Air mata buaya, paling menderita 

Kasak-kusuk tak masuk logika

Padahal gejolakmulah mempropaganda


Lembar kebohongan penuh drama 

Ataukah kabaret di arus Teberau 

Kau nyatakan perang tak ayalkan 

Seantero raya lihatkan genosida 

Mata dunia tak sepolos anak koala


Lantas, dimanakah?

Wahai Dewan Keamanan!

Yang bilangnya polisi lintas dunia 

Klaimnya pejuang Hak Asasi Manusia 

Karena punah sudah, 

Musnah sudah,

Sekerat kemanusiaan dihinakan 

Dihargai layaknya onggokan sampah


Baca juga ragam pemikiran dari para tokoh dan pemikir di rubrik HIBERNASI

Tuan Tanah

Langit menjelma merah saga

Peluru berkejaran di angkasa

Pasir bergumul dengan cara terburuknya

Jalan dan jejak langkah hilang dihembus

Maka hadirlah ia berterompah keberanian 

Merekalah Bilal, dengan pekik kemenangan 

Merekalah Al-Walid di guntur malam

Menerjang peradaban seperti Al-Fatih

Walau sempat ditenggelamkan, dibumi hanguskan


Mati? Tak peduli!

Mereka berkecambah

Bertambah, berjirahkan aqidah 

Jiwa menggelora, tak payah 

Berdirilah ia menantang badai 

Dibombardir granat tak jemu-jemu 

Meski mulut berhamburan abu 

Dan digempur beribu bau mesiu 

Tidak gentarkan jua jalan juangmu


Inilah tuan tanah, Palestina 

Bumi syuhada, panji suci 

Berkorban jiwa, berkobar api 

Gemuruh di bumi para Nabi 

Musim tanah bersemadi 

Saksi angkara muka bumi 

Teriakkan gaung kebenaran! 

Tunggulah, hari pembuktian 

Pasti datang menghampiri


Baca juga beragam artikel yang membahas terntang perempuan, kesetaraan gender, dan feminisme di rubrik PUAN


Ditulis oleh Mutia Alfi. Penyuka ice cream coklat ini masih menghamburkan diri pada buku-buku bacaan yang menenggelamkannya di senja lereng Ciremai, Kuningan.

Editor: Pemulung Rasa

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment