Jika Benda-Benda itu Memiliki Hati
Aku membayangkan seandainya
setiap benda memiliki hati.
Bagaimana perasaan sebuah buku
yang berdebu di rak dan lama tak dibelai penulis?
Betapa patah hatinya buku yang diduakan
oleh ponsel pintar yang tak pintar-pintar amat.
Betapa jengkelnya sepeda motor yang semingguan
tidak dimandikan karena badannya sudah bau dan kotor.
Atau, betapa jengkelnya setumpuk pakaian
yang tak kunjung diseterika dengan dalih rutinitas.
Piring-piring kotor yang berbaris rapi
pastinya berontak untuk segera dimandikan.
Jika manusia memiliki hati,
kepedulian akan tumbuh di hatinya
laksana tetumbuhan yang meneduhkan.
Purbalingga, 2026
Sehelai Tisu di Ruang Tengah
Akan aku bersihkan setiap yang kotor dan berdebu
entah itu tanganmu, entah itu wajahmu,
entah itu bibirmu, entah itu jemarimu,
entah itu lenganmu, entah itu pelipismu,
entah itu lukamu, entah itu hatimu,
entah itu rindumu, entah itu lelahmu,
entah itu sakitmu, entah itu sabarmu,
entah itu kasihmu, entah itu cintamu,
entah itu sikapmu, entah itu tabiatmu,
entah itu jiwamu, entah itu semangatmu
entah itu ragamu, entah itu hidupmu.
semua akan aku bersihkan sebisaku
agar hidupmu lebih rapi
di masa depan dan dihadapan-Nya.
Purbalingga, 2026
Bacajuga beragam PUISI karya para penyair.
Pembatas Buku
aku bisa menjadi pembatas dan saksi
kapan terakhir kali kamu membelai buku
halaman mana yang kau sumpah serapahi
kata apa yang terngiang di kepalamu
halaman mana yang kau baca berkali-kali
lembar ke berapa yang tak khatam-khatam kau baca
diksi apa yang membuatmu terpingkal-pingkal
tokoh mana yang kau puji setengah hati dan setengah mati
pun buku-buku yang tak pernah selesai kau baca.
Tapi, ketahuilah, bahwa hidup ini juga miniatur membaca buku
kamu harus belajar tanpa jemu
sesekali jeda untuk kembali belajar.
Pembatas buku mengajarimu menjadi manusia
teringat lelah, teringat berhenti
namun jangan larut dalam jeda henti
berjalanlah lagi saat engkau mulai terisi energi.
hiduplah selayaknya manusia, Nak.
Purbalingga, 2026
Rak Sepatu Berwarna Pink
Itukah sepatu pertamamu yang berwarna-warni itu?
merah, kuning, hijau, biru, senang, susah, bahagia, derita.
Berwarna sekali, bukan?
Tapi dimanakah ia sekarang?
Apakah sudah kau letakan di halaman belakang rumahmu?
Padahal, dia yang dulu menjadi kawan akrabku.
Saat ini, kau sepertinya jarang mengisiku
sepatu-sepatumu sering kali ditinggal di kantor
mungkin karena kau takut sepatu yang mahal itu kehujanan.
Padahal, yang lebih mahal dari sepatumu
ya kakimu sendiri, loh.
Di bagian tubuhku, ada sendal bapakmu
yang umurnya setara dengan empat sepatumu
setelah berulang kali ganti.
Oh ya, dari sendal bapakmu
aku belajar tentang kesetiaan,
kecukupan, kebutuhan,
kesederhanaan dan pengorbanan.
Hal-hal remeh temeh yang kadang dilupakan
oleh ingatan manusia.
Purbalingga, 2026
Sepeda Biru
Dulu, saat masih baru
saat engkau masih balita
aku membawamu ke pasar, ke rumah kakek,
ke tukang bakso langgananmu
ke lapangan, ke sekolahan
ke masjid, ke tempat yang tak kau ingat
dalam memorimu.
Aku menjadi saksi betapa bertenaganya ibumu
mengayuh pedal dengan segenap cinta
ke selatan, ke utara.
Saban hari ia lakukan itu
kakinya serupa dzikir bisu.
Rambutnya yang disapu angin
tak perlu kujelaskan
betapa cantiknya parasnya saat berjuang
betapa mulianya cucuran keringat yang menetes pada keningnya.
Kini, sepeda itu masih dipakai bapakmu
untuk ke masjid sehari tiga kali.
Subuh, maghrib dan isya.
Aku, bukan sekedar sepeda
aku serupa memoar hidupmu
yang akan terus berputar dalam ingatanmu.
Purbalingga, 2026
Ditulis oleh Yanuar Abdillah Setiadi, lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Menulis di 50 website Nasional. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Menjadi pembicara di beberapa seminar kepenulisan. Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media.
