Pembatas Buku dan Puisi Lainnya | Yanuar Abdillah Setiadi

Semua akan aku bersihkan sebisaku agar hidupmu lebih rapi di masa depan dan dihadapan-Nya...

 

Jika Benda-Benda itu Memiliki Hati

Aku membayangkan seandainya

setiap benda memiliki hati.

Bagaimana perasaan sebuah buku 

yang berdebu di rak dan lama tak dibelai penulis?

Betapa patah hatinya buku yang diduakan 

oleh ponsel pintar yang tak pintar-pintar amat.

Betapa jengkelnya sepeda motor yang semingguan

tidak dimandikan karena badannya sudah bau dan kotor.

Atau, betapa jengkelnya setumpuk pakaian

yang tak kunjung diseterika dengan dalih rutinitas.

Piring-piring kotor yang berbaris rapi 

pastinya berontak untuk segera dimandikan.

Jika manusia memiliki hati, 

kepedulian akan tumbuh di hatinya

laksana tetumbuhan yang meneduhkan.


Purbalingga, 2026

Sehelai Tisu di Ruang Tengah

Akan aku bersihkan setiap yang kotor dan berdebu


entah itu tanganmu, entah itu wajahmu, 

entah itu bibirmu, entah itu jemarimu,

entah itu lenganmu, entah itu pelipismu,

entah itu lukamu, entah itu hatimu,

entah itu rindumu, entah itu lelahmu,

entah itu sakitmu, entah itu sabarmu,

entah itu kasihmu, entah itu cintamu,

entah itu sikapmu, entah itu tabiatmu,

entah itu jiwamu, entah itu semangatmu

entah itu ragamu, entah itu hidupmu.


semua akan aku bersihkan sebisaku

agar hidupmu lebih rapi 

di masa depan dan dihadapan-Nya.


Purbalingga, 2026


Bacajuga beragam PUISI karya para penyair.

Pembatas Buku

aku bisa menjadi pembatas dan saksi 

kapan terakhir kali kamu membelai buku

halaman mana yang kau sumpah serapahi

kata apa yang terngiang di kepalamu

halaman mana yang kau baca berkali-kali

lembar ke berapa yang tak khatam-khatam kau baca

diksi apa yang membuatmu terpingkal-pingkal

tokoh mana yang kau puji setengah hati dan setengah mati

pun buku-buku yang tak pernah selesai kau baca.

Tapi, ketahuilah, bahwa hidup ini juga miniatur membaca buku

kamu harus belajar tanpa jemu

sesekali jeda untuk kembali belajar.


Pembatas buku mengajarimu menjadi manusia

teringat lelah, teringat berhenti 

namun jangan larut dalam jeda henti

berjalanlah lagi saat engkau mulai terisi energi.

hiduplah selayaknya manusia, Nak.


Purbalingga, 2026

Rak Sepatu Berwarna Pink

Itukah sepatu pertamamu yang berwarna-warni itu?

merah, kuning, hijau, biru, senang, susah, bahagia, derita.

Berwarna sekali, bukan?

Tapi dimanakah ia sekarang? 

Apakah sudah kau letakan di halaman belakang rumahmu?

Padahal, dia yang dulu menjadi kawan akrabku.


Saat ini, kau sepertinya jarang mengisiku

sepatu-sepatumu sering kali ditinggal di kantor

mungkin karena kau takut sepatu yang mahal itu kehujanan.

Padahal, yang lebih mahal dari sepatumu

ya kakimu sendiri, loh.


Di bagian tubuhku, ada sendal bapakmu 

yang umurnya setara dengan empat sepatumu

setelah berulang kali ganti. 


Oh ya, dari sendal bapakmu

aku belajar tentang kesetiaan,

kecukupan, kebutuhan,

kesederhanaan dan pengorbanan.

Hal-hal remeh temeh yang kadang dilupakan

oleh ingatan manusia.


Purbalingga, 2026

Sepeda Biru 

Dulu, saat masih baru

saat engkau masih balita

aku membawamu ke pasar, ke rumah kakek,

ke tukang bakso langgananmu

ke lapangan, ke sekolahan

ke masjid, ke tempat yang tak kau ingat 

dalam memorimu.


Aku menjadi saksi betapa bertenaganya ibumu

mengayuh pedal dengan segenap cinta

ke selatan, ke utara. 

Saban hari ia lakukan itu

kakinya serupa dzikir bisu.

Rambutnya yang disapu angin

tak perlu kujelaskan

betapa cantiknya parasnya saat berjuang

betapa mulianya cucuran keringat yang menetes pada keningnya.


Kini, sepeda itu masih dipakai bapakmu

untuk ke masjid sehari tiga kali.

Subuh, maghrib dan isya.


Aku, bukan sekedar sepeda

aku serupa memoar hidupmu

yang akan terus berputar dalam ingatanmu.


Purbalingga, 2026



Ditulis oleh Yanuar Abdillah Setiadi, lahir di Purbalingga, Januari 2001. Mukim di Desa Timbang, Kecamatan Kejobong, Kabupaten Purbalingga. Mahasiswa Magister Manajemen Pendidikan Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab di kampus yang sama. Menulis di 50 website Nasional. Tiga buku mutakhirnya berjudul Mengaji Pada Alif (2023), Melihat Lebih Dekat (2024). Wajah Purwokerto: Antara Cinta, Suka dan Duka di Kota Satria (2026). Menjadi pembicara di beberapa seminar kepenulisan. Nominator Terminal Award Mojok.co Yogyakarta tahun 2023. Karyanya termuat di berbagai media. 

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment