Sebuah Tadabur Sederhana; Kamar Mandi, Jamban, dan Perjalanan pun Kesyahduannya [Bagian II]

Teruntuk kalian yang baru saja singgah di sini dan agar mendapatkan keutuhan muatan dalam artikel ini, alangkah lebih baiknya singgah sejenak di artikel sebelumnya, Sebuah Tadabur Sederhana; Kamar Mandi, Jamban, dan perjalanan punKesyahduannya [Bagian I].

Jangan lupa, siapin dulu secangkir kopi atau coklat atau tehnya, atau rebahin badan dulu dengan nyaman. Semisal di sini kalian tak menjumpai apa-apa, setidaknya waktu ngopi atau ngeteh atau nyoklat atau rebahan kalian tidak terbuang sia-sia.

*

Gundulku pun rasanya sesak membayangkan semua itu. Terlebih kala memikirkan atas segala kegoblogan dan kesombongan yang seringkali singgah di dalam diri tanpa disadari.

Belom lagi kalau membayangkan bagaimana historis perjalanan lahirnya sebuah perlengkapan, aksesoris, dan peralatan kamar mandi dan jamban yang kini banyak diburu, diimpi-impikan, bahkan menjadi bayang-bayang pun keheranan di dalam kepala. Bagaimana sistem dan struktur bentuk dan pola inspirasi itu diciptakan dan dijalankan di dalam kepala setiap manusia.

Gundulku pun dibuat takjub dengan inspirasi yang digerakkan oleh energi maha dahsyat atas langkah dan penyelesaian yang mana titik awalnya dimulai dari manusia mampu merasakan, merespon sebuah rasa, dan mengelola rasa itu di dalam akal pikirannya yang berujung melahirkan sebuah jalan penyelesaian dari sebuah rasa ingin pipis dan boker.

Belum lagi bagaimana manusia diberikan energi penggerak untuk mengeksekusi inspirasi yang pasti juga melahirkan kegelisahan-kegelisahan tersendiri ketika digerakkan untuk meng-upgrade kamar mandi dan jamban agar lebih nyaman, estetik, artistik, dan segala sebuatan-sebutan lainnya. Selain itu, produk dari ragam inspirasi dan penggerakan itu kok ya makin kemari jika diamati menjadikan adanya sebuah kelas-kelas tersendiri dari kamar mandi dan jamban.

Tentunya, tulisan ini belum bermaksud membahas kelas-kelas seperti yang digaungkan Karl Marx. Belum. Masih sebatas tadabur sederhana atas keheranan yang bergemuruh di gundulku yang sebenarnya pasti ini juga sebuah awal gemuruh. Semoga saja ndasmu tidak riuh dan bergemuruh.

Gileeeee!

Beberapa belas tahun lalu, mata ini masih merekam orang boker di parit pematang sawah pun orang pipis di semak-semak dan di pohon. Pastinya ia pun cebok dengan air yang mengalir di parit itu atau dari daun-daun yang ada di sekitarnya. Ada pula yang sebatas nylentik-nylentik atau nggesot-nggesotke pusakanya di pohon tersebut. Jika beruntung, mereka aman dari serangan Tengu yang seringkali memicu hasrat garuk-garuk dengan penuh penghayatan pun penjiwaan itu bergelora di dalam jiwa.

Sedang di sisi lain di ruang lain beberapa waktu lalu ada Hang Fung Golden, sebuah toilet yang harganya sekitar 70 miliar.  Harga yang sangat fantastis untuk hamba miskinis ini, terlebih hanya digunakan untuk urusan ngising dan pipis.

Lagi dan lagi, gundulku pun tak kuasa membayangkan sesuatu di baliknya, terlebih apa yang ada di balik pikiran manusia yang seringkali membuat kategori-kategori tersendiri atas sebuah produk, baik dengan sebutan ketinggalan zaman, usang, tradisional, modern, gaul, sultan, dan sebutan lainnya.

Selain itu, ada juga literatur yang menceritakan ragam aksesoris kamar mandi termahal di dunia. Seperti, Theodent 300 toothopaste, sebuah pasta gigi seharga 100 dolar atau sekitar 1.4 Juta. Gila kan ini, melebihi gaji beberapa kali lipat dari orang yang memilih jalan mengabdi mencerdaskan kehidupan bangsa yang tidak terlalu dipikirkan secara maksimal oleh bangsanya sendiri. Seperti yang beberapa waktu lalu sempat viral di medsos.

Gundulku pun makin terheran-heran ketika membayangkan beberapa belas tahun lalu masih melihat orang gosok gigi menggunakan sabut kelapa tapi kini ada Reinast Luxury Toothbrush. Sikat gigi besutan Jerman, berbahan tintanium seharga 4.375 dolar atau sekitar 62 juta. Katanya, produk ini dilapisi antibakteri diantara sikat dan kepala sikatnya. Kepala sikatnya pun bisa diganti sehingga tidak perlu dibuang selama enam bulan pemakaian.

Tentu produk tersebut tidak seperti sikat yang seringkali kita gunakan yang terkadang sampai bentuknya njeber-njeber pun masih dipakai. Entah, harus berapa lama tidak makan, minum, beli kuota, dolan-dolan, nongkrong, nonton ke bioskop kita akan mampu membelinya jika keadaan UMR pun terkadang masih sangat mengilukan jiwa raga.

Gundulku pun makin kemebul memikirkan kamar mandi dan jamban dengan segala makna-makna di baliknya. Bagaimana tidak, jika dari fungsi kamar mandi pun sebenarnya diri kita sudah ditampar keras. Kamar mandi yang sering diartikan sebagai ruang untuk bebersih jasmani, mencuci pakaian dan beragam perabotan pun benda lainnya, pipis, boker pun sudah memberikan filosofis tersendiri yang sangat mendasar.

Sepertihalnya mandi. Terkadang kita masih terjebak dalam pemahaman dimana mandi adalah sebuah ikhtiar membersihkan kotoran, bakteri, keringat, meminimalisir bau, dan mendapatkan kesegaran pun kenyamanan. Tak heran jika sedari kecil kita sering disuruh mandi sehari dua kali, katanya biar selalu bersih dan wangi. Mandi masih ditangkap secara fisik dan materiil.

Mungkin dibalik adanya kamar mandi itu sebagai suatu bentuk pendidikan bahwa hidup ini harus sering-sering bebersih jiwa atau batin. Jika fisik dibersihkan dua kali sehari maka batin harus lebih. Siapa tahu banyak bakteri-bakteri, kotoran-kotoran negatif yang berada di dalam akal pikiran dan jiwa kita. Terlebih potensi adanya hal negatif di dalam pikiran dan jiwa di era sekarang ini sangat besar. Kita harus sering-sering membasuh jiwa kita.

Lagi dan lagi, dari inspirasi yang menggerakkan manusia untuk mandi pun terkadang manusia dibawa ke sebuah gelombang inspirasi lain lagi. Sepertihalnya tokoh besar Woody Allen, seorang sutradara, aktor, sekaligus penulis yang dikenal dengan kutipan-kutipan syahdunya. Beliau mengakui pikirannya menjadi lebih encer dalam menghasilkan ide-ide briliannya saat berlama-lama di bawah shower.  

Hal tersebut hampir mirip dengan Budhe Agatha Cristie, bedanya budhe sambil sambil menjejerkan apel-apal yang telah digigitnya. Dari hal itu Budhe pun seringkali mendapatkan ide-ide menulisnya.

Pakdhe Archimedes dengan hukum volumenya pun lahir di bak mandi. Konon, pemikirannya itu diberikan pencerahan kala dirinya melihat air yang tumpak dari bak mandi ketika ada benda lain yang masuk di dalamnya. Alhasil, kejadian itu menjadikan dirinya menemukan teorinya dan langsung berteriak EUREKA!

Ekosistem inspirasi pun makin berjalan panjang. Dari inspirasi-inspirasi yang didapatkan banyak orang kala berada di kamar mandi dan di atas jamban pun melahirkan inspirasi-inspirasi baru bagi orang lain, baik secara langsung atau tersirat. Begitu seterusnya.

Belum lagi dengan pipis dan boker. Mereka pun mengajarkan hidup dengan caranya masing-masing. Semahal dan sesangar apa pun yang diri kita makan dan minum, sekeren dan sebagus apapun tempat kamu makan dan minum, tetap saja pada akhirnya akan menjelma air kencing dan tahi.

Sialan, kok ya dari tahi yang ada di jamban itu manusia diberi inspirasi lagi untuk mengolahnya menjadi kompos, dan biogas. Sungguh ini adalah perjalanan inspirasi yang tak ada henti. Kamar mandi dan jamban telah mengajarkan banyak hal dan memberikan tamparan atas ketidaktahuan diri kita yang jarang disadari.

Dari kamar mandi dan jamban kita kembali diingatkan. Terkadang diri kita gedebugan siang-malam-pagi, kesana-kemari untuk mengumpulkan materi, memenuhi segala keinginan, keegoisan, bahkan juga kedengkian dan keirian. Namun, kita lupa akan satu hal sederhana yang merupakan puncak dari gedebugan.

Tak lain, hidup itu untuk makan, agar diri mendapatkan energi untuk melaksanakan tanggung jawab atas setiap embus napas, setiap langkah yang diri lakukan. Dari segala hal apa pun yang diri perjuangkan untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan materialisme yang terkadang hanya untuk sebuah ajang pamer bahkan juga ajang penindasan dan keserakahan ini, ada suatu hal yang pada dasarnya sangat menggembirakan, menenteramkan, dan bisa dikatakan pula sebagai guru kehidupan.

Yah, guru kehidupan tak harus dari sesuatu yang hidup secara fisik. Semua yang ada di semesta ini pada dasarnya adalah guru kehidupan, hanya saja terkadang diri tak mampu mencerna pelajaran yang disampaikan.

Suatu hal yang menghadirkan ketenteraman, kegembiraan itu merupakan sebuah puncak rasa dari gedebugan dalam menjalani hari-hari. Tak lain adalah menikmati nikmatnya ngising dan segala energi yang hadir pun ada kala itu.

Jika tahi bisa tertawa dan berbicara, mungkin kita setiap hari ditertawakan sama tahi.

Mungkin tahi pun akan berbisik, "Eh sadar ndak sih elu, gedebugan tiap hari itu biar bisa merasakan nikmatnya ngising! Elu sekaya, sehebat, dan sesangar apa pun, kalau nggak bisa ngising akan menderita. Wajahmu akan mengerut pucat dan penuh kecemasan. Bebelen aja elu udah kuwalahan dan menderita! Elu harusnye mikir, jangan songong!"

Dan dari ngising pula diri kita diajarkan tentang sebuah keikhlasan. Terkadang diri kita gedebukan memperjuangkan sesuatu dengan sedemikian gedebugan tetapi seiring berjalannya waktu sesuatu itu sirna dengan tiba-tiba atau karena sebuah kesalahan tertentu. Hal utama yang harus dilakukan adalah mengingat saat diri kita ngising.

Kehilangan mengajarkan bahwa kita ini pada dasarnya tak memiliki sesuatu. Kita hanya merasa memiliki sesuatu. Bahkan rasa itu sendiri pun kita tak mampu menciptakan sendiri, sebab ia hadir dan ada di dalam diri kita karena ada energi maha besar dan dahsyat yang menggerakkannya.

Sialnya, kali ini gundulku memikirkan sudah berapa banyak utang rasaku kepada kamar mandi dan jamban. Riuh kian bergemuruh.

Ditulis oleh  Pemulung Rasa.
Laki-laki kelahiran Magelang 
yang tengah berjuang menggelandang 
dan memulung rasa di jalan sunyi.

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

1 comment

  1. Cut