Novel Belenggu karya Armijn Pane menceritakan tentang pasangan suami istri bernama Dokter Sukartono (Tono) dan Tini. Hubungan suami istri ini mulai renggang dan tidak harmonis. Pasangan ini digambarkan memiliki masa lalu bersama kekasih mereka masing-masing.
Tokoh Tono digambarkan melakukan perselingkuhan dengan teman kecilnya sekaligus tetangganya dahulu. Konflik dalam novel Belenggu meliputi konflik antartokoh dan selebihnya konflik batin tokoh-tokohnya. Judul Belenggu pada novel tersebut menggambarkan perasaan Tono dan Tini yang terbelenggu akan masa lalunya, oleh pikiran dan angan-angannya, serta atas status sosial mereka sebagai pasangan terpelajar.
Novel tersebut dianggap sebagai novel roman pembaruan oleh beberapa kritikus sastra setelah terbitnya pada 1940. Hal ini karena Armijn Pane sebagai penulis novel Belenggu yang berjiwa visioner, pemikir, dan memiliki kebebasan berekspresi. Dalam novel Belenggu, Armijn Pane dengan sadar menyelipkan dikotomi antara Barat dan Timur serta antarkaum kolot dan generasi modern. Selain itu, Armijn Pane juga menawarkan nilai-nilai kemanusiaan, salah satunya ialah emansipasi wanita.
Nikmati ragam pemikiran di kolom HIBERNASI
Guna memaknai novel Belenggu secara mendalam, pembaca harus memahami berbagai konteks yang melatarbelakangi novel tersebut. Baik konteks sosial-budaya maupun konteks sejarah perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Selain itu, novel Belenggu juga menandai awal perkembangan sastra Indonesia ke era modern.
Kata 'Belenggu' sebagai judul novel nampaknya juga menggambarkan visi Armijn Pane yang ingin melepaskan diri dari belenggu generasinya yang normatif.
Jika dilihat dari segi bentuknya, gramatika penulisan novel Belenggu masih menggunakan kaidah kebahasaan Indonesia awal. Novel ini menandai diksi-diksi atau istilah-istilah yang digunakan sebagai penanda bahasa Indonesia awal, sehingga sangat berbeda dengan perkembangan bahasa Indonesia saat ini.
Nikmati tulisan di kolom SENGGANG
Ditinjau dari segi isinya, novel Belenggu hampir mirip dengan angkatan sastra sebelumnya, yakni Balai Pustaka yang sebagian besar mengisahkan tentang 'kawin paksa;, percintaan (rumah tangga), kehidupan kota yang ideal, dan tema perselingkuhan. Tema-tema tersebut menandai keberlanjutan dari tema angkatan sebelumnya sehingga tidak terlepas dari konteks sosial budaya yang melatarbelakanginya.
Novel Belenggu karya Armijn Pane juga menandai sejarah sastra Indonesia selain perkembangan sastra Indonesia. Namun begitu, novel ini masih relevan untuk diulas hingga saat ini. Hal yang relevan dari novel Belenggu, misalnya nilai-nilai kehidupan yang ditawarkan oleh Armijn Pane, sepert nilai emansipasi atau feminisme.
Baca juga beragam karya sastra di rubrik TETES EMBUN
Nilai-nilai feminisme itu misalnya tercermin pada halaman 53, "BUkankah lakiku juga pergi sendirian? Mengapa aku tidak boleh? Apakah bedanya? .... Dengarlah dahulu. Ibu membedakan perempuan dan laki-laki. Itulah pokok perbedaan paham kaum ibu dan kami perempuan sekarang." Atau pada halaman 54, "Tini lagi berbaring di sofa membaca buku." Pada kutipan ini perempuan digambarkan memiliki selera membaca atau bebas mengakses pengetahuan.
Novel Belenggu karya Armijn Pane ini cocok untuk mata kuliah sejarah sastra dan teori sastra untuk mahasiswa sastra Indonesia. Selain umum, novel ini menggambarkan perkembangan bahasa dan sastra Indonesia. Novel ini juga dapat dibaca dengan teori-teori atau pendekatatn sastra modern.
Nikmati beragam artikel tentang perempuan, kesetaraan gender, dan feminisme di rubrik PUAN
Tentang Pengarang
Armijn Pane lahir pada 18 Agustus 1908 dan meninggal pada 16 Februari 1970. Pada 1933 bersama Sutan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mendirikan majalah Pujangga Baru yang mempu mengumpulkan penulis-penulis dan pendukung lainnya dari seluruh penjuru Hindia Belanda untuk memulai sebuah pergerakan modernisme sastra. Salah satu karya sastranya yang terkenal ialah novel Belenggu (1940).
Baja juga karya Pitrus Puspito lainnya
