Malam Kematian dan Jika Semua Negara Angkat Senjata | Puisi-Puisi Ahmad Rizki

Puisi-Puisi Ahmad Rizki: Jika Semua Negara Angkat Senjata, HOS Tjokroaminoto di Surga, Satu Abad Kemudian, Setahun Kelabu, dan Malam Kematian

Jika Semua Negara Angkat Senjata

Jika semua angkat senjata.

Pertama:
Hanya wasiat lelaki tua kuyup mesiu, 
hanya seorang lelaki menyusuri sunyi, 
senjata dan kendaraan lapis baja lebih nyaring di kuping dari pecahan botol wine,
mengganggu rusa betina,
Menakutkan.

Kedua:
Hanya sejuta dogma setan di medan perang, 
hanya asap rokok tanpa nasihat, 
segunung ancaman dan agenda gila, 
membakar pesta raja-raja, 
dan ketegangan lebih erotis dari selangkangan Cleopatra.

Ketiga:
Bahtera kehidupan nyasar ke antah-berantah, 
dan sepasang merpati dewasa mengatakan:
Sejarah Habil-Qobil adalah
kematian dan kebencian.

Dan, sejarah perang adalah malam kehancuran.
Jika semua negara angkat senjata:
Mengerikan.

Pamulang, 2021

HOS Tjokroaminoto di Surga

Raja Jawa
                   tanpa mahkota,
          ia disapa.
              Ia, senantiasa
      ikhlas berjuang.
Bayang-bayangnya
                      gagah dan
          perkasa, tapi,
                yang kuingat
    ia berjalan
                                     ke sorga.
Dan, berkatalah
                        kita semua:
 Terima kasih!

Jakarta, 2020

Satu Abad Kemudian

Satu abad datang dan tak seorang kan mengerti:
Kemajuan semu, 
apa pun nama dan istilah, 
seolah menjadi hijab penderitaan.

Tahun ke tahun, nyatanya,
hanya pembangunan. 
Kini, orang asing membuat sejarah baru tanah basah ini.
Tapi, nasihat orangtua, mengusikku, 
menuntunku ke rumah, 
dan memberikanku kunci yang hilang satu abad kemudian. 
Dan, yang kuingat: 
Pengulangan!

Ciputat, 2022

Setahun Kelabu

Setahun kelabu, bisu.

Kemarin: hari-hari jadi puisi, 
dan mengepul di lautan masa silam. 

Hari ke hari, puisi menangis dan menyesal. 
Saat ini, dari gunung masa lalu,
pengetahuan nenek moyang jadi lahar, 
mengolok-olok nyali hidup.

Kemarin dan masa depan adalah pengecualian. 
Kuhindari sesal dan ramalan. 
Kubersihkan Kenangan dan harapan. 
Lalu,  jiwaku duduk di nasib masa  kini—penasaran.

2021

Malam Kematian

Itu hanya sirene.
Jangan bangun.
Jangan sedih.
Bapak masih tertawa.

Apa bapak mengkhawatirkan masa depan anaknya?
Mengapa hidup adalah bola,
berputar-putar, tapi selalu sengsara.
Apakah harus kupercaya orang-orang miskin dapat bahagia?
Apakah harus kita bulatkan tekad?
Tapi apakah nyali berbentuk bulat?
Namun apakah pantang menyerah lebih panas dari matahari?
Dan besok, apakah bapak siuman dan menawarkan sebatang rokok, dan kita rayakan seperti biasa?

Wahai rumah sakit dan roh-roh yang nangkring di belakang suster cantik,
apakah malam kematian itu?
Apakah harus kubersihkan jiwa di sekitar malaikat maut?
wahai diri yang getir, apa artinya kebingungan ini?

IGD Fatmawati, 2019


Ditulis oleh Ahmad Rizki. Kini sedang menggelandang di Ciputat. Sibuk self-healing dan mendalami muara omong kosong di mana-mana. Beberapa tulisan omong kosongnya dimuat dalam media online. Karya yang telah dibukukan, Sisa-Sisa Kesemrawutan; Gelisah (Himpunan Sajak); Sajak Asbak. Informasi lebih lanjut dapat ditilik melalui Instagram ah_rzkiii

Editor: Pemulung Rasa

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment