Geofoam: Teknologi Ramah Lingkungan untuk Pembangunan Tol

Pembangunan tol ramah lingkungan dapat membantu menjaga kelestarian lingkungan, meningkatkan kualitas hidup, dan membantu mitigasi perubahan iklim…

Masyarakat mengenal tol sebagai jalan yang hanya diperuntukkan bagi kendaraan roda empat atau lebih dan berbayar. Guna meningkatkan efisiensi keberlanjutan, teknologi baru dalam pembangunan tol terus diinovasi dan dikembangkan. Salah satu buah inovasi terkini dan sudah mulai diterapkan ialah tol ramah lingkungan.

Tol ramah lingkungan menjadi salah satu langkah penting dalam menciptakan ekosistem infrastruktur keberlanjutan. Sederhananya, jalan tol ramah lingkungan ialah tol yang dirancang, dibangun, dan dioperasikan dengan memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan. 

Pembangunan tol ramah lingkungan dapat membantu dalam menjaga kelestarian lingkungan, meningkatkan kualitas hidup, dan membantu mitigasi perubahan iklim. Salah satu teknologi yang menjadi fokus utama dalam pembangunan infrastruktur tol ialah penggunaan geofoam.

Baca juga Manusia dan Krisis Ekologi

Expanded Polystyrene (EPS) geofoam merupakan salah satu jenis material ringan berbentuk balok atau lainnya yang dibuat dengan bahan dasar politirene, sehingga memiliki struktur kaku dan berpori rongga udara. EPS geofoam dapat digunakan sebagai material pengganti timbunan tanah pada badan jalan dan oprit kepala jembatan.

Di Indonesia sendiri sudah memanfaatkan penggunaan geofoam sebagai pengganti timbunan tanah pada pembangunan tol, seperti yang diterapkan di tol Cisumdawu.

Pada proses pembangunan tol Cisumdawu, tim teknis dari Kementerian PUPR memilih menggunakan teknologi geofoam sebagai pengganti timbunan tanah dan lapisan penopang bawah pengerasan jalan. Selain di tol Cisumdawu, tol Indralaya-Prabumilih juga sudah menerapkan teknologi tersebut.

Pemakaian geofoam pada tol Indralaya-Prabumulih yang panjangnya mencapai 64 km bukan tanpa alasan mendasar. Tujuannya ialah meminimalisir penurunan oprit dan memperlambat amblas atau penurunan tanah selama masa layanan tol. 

Baca juga Apa yang Bisa Dilakukan Institusi Pendidikan untuk Menyambut Era Green Jobs

Dalam pengaplikasian geofoam terdapat standar kualitas agar dapat membantu meningkatkan kualitas dan ketahanan jalan, serta memperpanjang umur layanan. 

Standar kualitas tersebut ada beberapa ciri utama. Pertama, dapat memperhatikan kepadatan geofoam, yaitu 50 kg/m³. Kedua, harus mampu menahan beban kompresi minimal 200 kPa tanpa mengalami deformasi permanen lebih dari 2%.

Selain itu, geofoam yang digunakan harus memiliki sertifikat dari lembaga yang kompeten guna memastikan bahwa produknya telah memenuhi standar kualitas yang telah ditetapkan. Geofoam yang telah memenuhi standar kualitas dapat memberikan manfaat yang signifikan.

Manfaat utama yang dihasilkan, yaitu mengurangi beban struktural dan memberikan stabilitas yang cukup untuk menahan beban lalu lintas yang berat. Dalam pembangunan proyek konstruksi teknologi ini bermanfaat karena ramah lingkungan dan berkontribusi pada upaya keberlanjutan.

Beragam manfaat tersebut tidak luput dari kelemahan yang ada pada geofoam, yakni rentan terhadap minyak dan suhu panas, serta vendor dan kapasitas produksi terbatas. Selain itu, masih perlu pengawalan dalam penerapannya karena tergolong teknologi baru. Kekurangan tersebut pada dasarnya juga dapat memberikan dampak terhadap lingkungan.

Baca juga ragam pemikiran dan pandangan dari para pakar, peneliti, dosen, dan pemikir di bidangnya di rubrik HIBERNASI

Dampak Penggunaan Geofoam

Setiap teknologi selalu memiliki dampaknya sendiri terhadap lingkungan, baik positif maupun negatifnya, begitu pula dengan geofoam.

Dampak positif geofoam terhadap tingkungan yakni bahannya dapat di daur ulang dan memiliki jejak karbon yang rendah, sehingga membantu dalam upaya pengurangan emisi gas rumah kacaDampak negatifnya juga mampu merusak lingkungan secara signifikan, seperti perubahan dalam intensitas resapan air dan kerusakan ekosistem.

Dalam konteks pembangunan infrastruktur, penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk mempertimbangkan dampak negatif ini dan mengambil solusi yang tepat untuk mengantisipasi atau menanggulanginya.

Baca juga ragam tulisan bertajuk SENGGANG

Beberapa solusi yang dapat dipertimbangkan guna menanggulangi dampak negatif dari penggunaan geofoam, yaitu,

  1. Pilih geofoam yang terbuat dari bahan daur ulang atau bahan yang diproduksi dengan cara berkelanjuan.
  2. Melakukan penelitian jangka panjang terkait dengan dampak geofoam terhadap tanah, air, dan biota sekitar jalan tol.
  3. Bekerja sama antarpemangku kepentingan, termasuk pemerintah, industri, akademisi, dan LSM untuk mengembangkan solusi berkelanjutan.

Diterapkannya beberapa solusi tersebut maka penggunaan geofoam dalam pembangunan tol dapat memberikan manfaat yang optimal dengan meminimalisir dampak negatifnya terhadap lingkungan dan masyarakat.

Baca juga beragam artikel yang membahas terntang perempuan, kesetaraan gender, dan feminisme di rubrik PUAN

Referensi:
  • Values, C. (n.d). 2023. Thoward The Excellent. The High Information of Nindya karya XIV.
  • Binamarga. 2023. NSPK - Kriteria Spesifikasi Khusus Interim; Expanded Polystyrene (EPS) geofoam.
  • Sindi, F. 2023. Menggunakan Material Inovatif Geofoam Jalan Tol Cisumdawu akan Segera Rampung. (Sumedang Jabar Ekspres)
  • Vivas, D. 2023. Jalan Tol Cisumdawu Guakan Teknologi Geofoam sebagai Pengganti Timbunan Tanah. (Depobeta)

Ditulis oleh Desnia Anggita, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil, Universitas Tidar.

Editor: Pemulung Rasa

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment