Artificial Intelligence dan Masa Depan Umat Manusia

Dalam Homo Deus, Harari menuturkan bahwa dua atau tiga dekade mendatang, umat manusia akan digantikan perannya oleh Artificial Intelligence (AI). Teknologi akan memutuskan tentang apa yang terbaik untuk menunjang kehidupan manusia. Di sisi lain, terkadang diri seringkali kebingungan dalam memutuskan apa yang terbaik untuk diri secara pribadi.

Watson, sebuah AI yang mengalahkan manusia (sebelumnya merupakan juara)  dalam acara televisi Jeorpardy! pada 2011. Saat ini Watson digadang-gadang melakukan sebuah pekerjaan serius terutama dalam mendiagnosis penyakit. Hal tersebut dikarenakan AI seperti Watson memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dokter manusia.

Beberapa keunggulannya yakni dapat menyimpan lebih banyak informasi tentang segala penyakit dan obatnya yang pernah diketahui dalam sejarah. Ia kemudian dapat memperbarui bank datanya setiap hari, seperti temuan riset-riset baru, statistik medis dari setiap klinik dan rumah sakit yang terhubung di seluruh dunia.  

Watson tidak hanya mengenal seluruh gen dan sejarah medis hari demi hari, tetapi juga setiap gen dan sejarah medis seluruh keluarga Anda dan teman-teman Anda. Watson akan segera mengetahui apakah penyakit Anda merupakan hasil penularan orang terdekat atau bukan. 

Selain itu, Watson tidak pernah lelah, lapar atau sakit, dan mampu menemani sepanjang waktu.  Watson tidak seperti manusia yang terkadang keputusannya dipengaruhi oleh emosi. Watson membuat keputusan yang rasional dan penuh pertimbangan. 

Beberapa tahun lalu, mesin AI produk sebuah perusahaan rintisan berhasil menulis esai dengan kematangan ide setingkat siswa SMA. Mungkin saat ini mesin tersebut sudah mampu menuliskan karya ilmiah sekelas tulisan doktor, atau mungkin sudah mampu menulis karya sastra. 

Puluhan wartawan yang menjalankan sayap bisnis media Grup Microsoft pun digantikan dengan robot. Mereka diberhentikan. Kantor berita Reuters juga sudah mempekerjakan robot untuk menulis berita. Sebuah perusahaan media di Swiss, Tamedia, mempekerjakan robot yang mampu memproduksi 40.000 tulisan dalam lima menit. Berkat bantuan AI, grub Amazon merekrut 90.000 pegawai dalam waktu satu hari.

Selain Watson dan beberapa kecerdasan buatan yang telah dituliskan di atas, kecerdasan buatan yang lebih sederhana telah merambah terlebih dahulu ke dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. 

Misalnya, beberapa waktu lalu peneliti Samsung merilis AI atau kecerdasan buatan yang mampu membuat video palsu berisi wajah orang yang berbicara bermodalkan sebuah foto. Peneliti tersebut memberikan contoh video Monalisa yang sedang berbicara. Padahal selama ini kita hanya mampu melihat Monalisa dalam bentuk lukisan.

Beberapa waktu lalu pula, Snapchat merilis filter pada aplikasinya yang memungkinkan seseorang mengubah wajahnya menjadi gender yang berbeda pada foto atau video. Kecerdasan buatan seperti ini memang menjadi salah satu teknologi yang paling banyak berkembang saat ini. 

Pernahkah kita menyadari atau memperhatikan ketika membuka aplikasi belanja online? Dari laman tersebut pasti memberikan rekomendasi barang-barang untuk kita beli sesuai dengan minat atau apa yang diinginkan diri kita. Hal itu dikarenakan sistem komputer memiliki kecerdasan untuk mengetahui apa yang kita sukai. 

Sistem mempelajari pola tingkah laku kita ketika menggunakan aplikasi tersebut. Dari pola tingkah laku tersebut, komputer mendapat pengalaman dan mengenali apa yang kita sukai, sehingga dapat merekomendasikan apa pun yang peluangnya akan kita pilih.

AI pun kini sudah bisa menjadi asisten rumah tangga yang dikenal dengan smarthome. Artinya, rumah yang memiliki perabotan yang dapat saling terhubung satu sama lain melalui koneksi internet dan dapat dikendalikan dari jarak jauh. Salah satu sarana yang menyediakan smarthome yakni Alexa dari Amazon.

Selain itu, AI pun mampu menyetir mobil atau dikenal dengan swa-kemudi. Dalam bukunya, 21 Lessons, Harari menuturkan bahwa banyak pengemudi yang tidak terbiasa dengan semua peraturan lalu lintas yang berubah dan mereka sering melanggar. Selain itu, karena kendaraan adalah entitas yang terpisah ketika dua kendaraan mendekati persimpangan yang sama pada saat yang sama, para pengemudi bisa salah mengomunikasikan niat mereka masing-masing dan bertabrakan.

Mobil-mobil swa-kemudi sebaliknya, semuanya bisa terhubung satu sama lain. Ketika dua kendaraan tersebut mendekati persimpangan yang sama pada waktu yang sama, mereka bukanlah dua entitas yang terpisah -mereka adalah satu bagian dari suatu algoritma tunggal. Oleh karena itu, kecil kemungkinan akan terjadi miskomunikasi yang membuat mereka bertabrakan.

Jika Kementrian Transportasi memutuskan untuk mengubah beberapa peraturan lalu lintas, semua kendaraan swa-kemudi dapat dengan mudah diperbarui pada saat yang sama. Apabila tidak ada kesalahan dalam program, mereka semua akan mengikuti peraturan yang baru itu dengan kepatuhan terhadap setiap detailnya. Dengan kata lain, menggunakan kendaraan otonom (swa-kemudi) akan lebih banyak menyelamatkan jutaan nyawa manusia dari resiko kecelakaan.

Kemajuan-kemajuan seperti itu pun sudah diramalkan oleh Raymond Kurzweil, menurutnya selambatnya pada 2045 akan tercipta manusia hybird (gabungan fisik biologis dan perangkat-perangkat teknologis), merasa dia tinggal beberapa langkah lagi untuk mampu menciptakan pikiran, seperti ia petakan dengan rinci dalam bukunya How to Create a Mind; The Secret of Human Though Revealed (Viking Penguin, 2012).

Namun, beberapa langkah itu nampaknya masih perlu dua puluh tahun lagi. Selain pikiran ciptaannya mungkin saja tak sebaik akal manusia -walau yang lebih mungkin adalah sebaliknya. Dalam buku itu disebutkan, misalnya membran di dalam otak manusia mampu menyimpan 300 juta informasi -ia tentu bisa membuat otak digital berkali lipat dari jumlah ini, sambil memberinya kemampuan untuk memanggil informasi itu kapan saja; hal yang tidak dimiliki otak biologis. 

Raymond Kurzweil yang merupakan seorang futuris tersebut pun memprediksi bahwa komputer akan lolos uji Turing pada tahun 2029. Komputer nantinya mampu menunjukkan intelegensi, self awareness, bahkan perasaan yang tidak dapat dibedakan dengan manusia. Perubahan yang sangat cepat ini dapat diatasi manusia apabila manusia bekerjasama dengan robot.

Pendapat itu pun seirama dengan Harari dalam bukunya 21 Lessons, bahwa AI boleh jadi mengantikan peranan manusia di dalam kehidupan sehari-hari, karena AI mampu melakukan hal-hal yang tidak dapat dilakukan manusia. Beliau juga menambahkan bahwa AI adalah salah satu produk utama 'kebodohan' manusia.

Namun, dengan kemajuan seperti apa pun, kemungkinan AI dapat menggantikan manusia adalah 50:50. Walaupun logika dan perasaan dapat dialgoritmakan komputer, manusia tetap makhluk paling sempurna di muka bumi ini dengan berbagai macam kompleksitasnya. 

Kecerdasan akal bisa saja diterapkan pada komputer, tetapi kecerdasan hati akan sulit diterapkan pada komputer. Jika manusia dengan hewan dibedakan melalui akalnya, maka manusia dan komputer dibedakan melalui kecerdasan hatinya.

Manusia pun memiliki kontrol atas AI yang diibaratkan seperti pisau, baik buruknya, berguna tidaknya, sesuai dengan langkah perlakuan yang diri kita pilih.

Ditulis oleh Pemulung Rasa. Laki-laki kelahiran Magelang  yang tengah berjuang menggelandang  dan memulung rasa di jalan sunyi

Sumber:
Bitbrain, Will artificial intelligence ever have emotions or feeling?
C. Smith, B. McGuire, T. Huang, dan G. Yang, The History of Artificial Intelligence. Washington: University of Washington, 2006.
E. Reynolds, The agony of Sophia, the world’s first robot citizen condemned to a lifeless career in marketing.
Harari, YN. 2018. Homo Deus. Jakarta: Alvabet.
Harari, YN. 2018. 21 Leason. Manado: CV. Global Indo Kreatif
J. Edwards, I interviewed Sophia, the artificially intelligent robot that said it wanted to ‘destroy humans’.
Laboratory of Business Intelligence; Contoh Penerapan Artificial Intelligence yang Populer Saat Ini.
Masswerk, Eliza.

About the Author

Ruang Bertukar Pikiran, Kenangan, dan Kegelisahan

Post a Comment