Negara yang tidak diurus dengan benar selalu menjadikan pajak sebagai salah satu sumber pendapatan dan pasti tanpa adanya pengembalian dalam bentuk fasilitas publik yang setara. Kambing hitam disiapkan sebagai pengalihan isu. Puluhan ribu alasan pembenaran menjadi amunisi tambahan demi menyelamatkan muka dari amukan masa melalui oknum-oknum tertentu yang mendapatkan manfaat dari kesalahan memimpin. Tambah pula intimidasi dengan alasan "Kenakalan Anggota” cukup mencederai masyarakat yang seolah-olah hidup di dalam gua tanpa fakta yang terpampang jelas, bahwa pembungkaman adalah rahasia umum yang tidak terbantahkan.
Aparatus negara selalu menjadi puncak penebar ketakutan karena saling terhubungnya pengkritik dengan sumber-sumber kehidupan keluarga. Tampak jelas mereka tidak pernah belajar dari runtuhnya Kerajaan Prancis ketika Louis XVI berkuasa yang akhirnya memunculkan gelombang revolusi. Mereka abai dengan sejarah itu.
Pemborosan anggaran, krisis keuangan yang parah, dan gaya hidup glamor yang menutup mata dari penderitaan rakyat, memicu amuk masa yang akhirnya menjadikan Louis XVI beserta Marie Antoinette menjadi aib bagi bangsanya, meskipun telah dieksekusi dengan guillotine atau pancung pada 21 Januari 1793. Apakah mereka tidak pernah belajar dari sejarah? Jika kita melihat kebijakan-kebijakan yang ngawur, sepertinya jelas mereka tidak berkaca pada peristiwa tersebut.
Secara jujur dapat diakui bahwa Prabowo menjadi anitesis Jokowi pada beberapa hal, salah satunya perjalanan ke luar negeri dan kecakapannya dalam pidato dengan isi yang lumayan bisa dibangakan. Meskipun masih sangat jauh dengan kepiawaian Soekarno dan Hatta ketika meyakinkan audiens dalam forum internasional. Sayangnya ketika negara dalam keadaan yang tidak baik-baik saja karena warisan hutang dari pendahulu-pendahulunya.
Nikmati ragam pemikiran di kolom HIBERNASI
Berdasar data dari Kompas.com, sejak dilantik pada 20 Oktober 2024, Prabowo telah melakukan perjalanan dinas 49 kali ke luar negeri ke 28 negara. Rasio yang cukup jomplang. Dalam 589 hari dia telah berada di luar negeri selama sekitar 112 hari.
Sayangnya lama kunjungan tidak benar sebanding dengan kualitas yang dihasilkan. Meskipun ada pembelaan dari pemerintah, bahwa kunjungan tersebut menghasilkan lebih dari 5000 T, tetapi jika melihat kondisi yang terjadi saat ini, apakah itu sama dengan ketika Jokowi mengatakan bahwa investor IKN mengantri yang nyatanya tidak terbukti?
Seperti biasa tidak ada yang lebih jago berbohong selain pemerintah. Lapangan pekerjaan yang dijanjikan sebanyak 19 juta kini mulai jadi lelucon karena tidak terbukti. MBG yang katanya membesarkan petani dan pedagang kecil, malah menjadi buldoser yang menggerus sumber pendapatan mereka.
Di tengah ketidakpastian dan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah diperparah lagi dengan harga motor listrik sebagai operasional MBG yang dibadrol 58 juta. Parahnya lagi ditemukan mark up sampai 42 juta oleh Kejaksaan Agung.
Kelucuan-kelucuan yang memperparah kemiskinan tersebut akhirnya mendatangkan protes dimana-mana.
Mahasiswa turun ke jalan, tetapi sayangnya yang diprotes ialah bekas-bekas aktivis yang hari ini mengabdi pada kekuasaan. Budiman Sudjatmiko, ia bertahun-tahun menjadi referensi pergerakan mahasiswa melawan kekuasaan. Namun, ketika kekuasaan sudah ada di tangan, suaranya tak selantang ketika ia turut serta menjatuhkan Suharto.
Penyusup pun dimana-mana bahkan sekelas negara memasang alat pelacak pada seorang aktivis muda, Tiyo Ardianto. Hal itu cukup berlebihan, tetapi rumus ketika penguasa takut karena kesalahan yang terlalu banyak, maka semua hal menjadi perlu dilakukan demi pembungkaman.
Pertanyaan selalu muncul, ketika negara tidak hadir dan malah menjadikan masyarakat sebagai lawan, maka pada siapa lagi kita akan menaruh harapan. Mimpi generasi emas tahun 2045 terlalu naif untuk kita percaya sebab korupsi masih dimana-mana. Tambah lagi karena kekuasaan yang diciptakan dengan warna kecurangan selalu menghadirkan masalah baru yang tiap hari makin pelik sehingga mustahil untuk diselesaikan.
Hal itu karena solusi tidak pernah hadir dari isi kepala yang belum selesai dengan dunia. Solusi selalu datang pada orang yang tenang, penuh perhitungan, dan menjadikan rakyat sebagai cermin aturan-aturan yang dibuat.
Nikmati tulisan di kolom SENGGANG
Hari-hari ini hal tersebut jauh panggang dari api. Ketika dolar melambung sampai 18.000 sekian dan permasalahan yang jelas di depan mata pun tetap tidak terselesaikan. Jadi, jika investor asing menarik balik modalnya sekaligus dengan dolar-dolarnya, hal itu merupakan konsekuensi logis dari kekuasaan yang tidak benar-benar memperjuangkan rakyatnya karena ego sektoral masih dijadikan sebagai kiblat. Bahkan alasan “Orang desa tidak butuh dolar” menjadikan masyarakat makin nelangsa hidup di negara yang katanya demokratis, meski nyatanya kritik menjadi barang tabu yang tidak boleh dilakukan.
Lucunya, dulu ketika protes karena ketidakpastian hidup mulai dirasakan dan menggema tagline “Kabur aja dulu”, salah satu anggota dari pemerintah yang sah saat ini, tanpa pikir panjang langsung berkata, sekalian aja pergi dan tidak perlu balik lagi. Hal itu menjadi bom waktu pada hari ini, karena ternyata banyak yang pergi, tetapi menyimpan dolarnya di luar negeri karena tidak lagi ada empati dari komentar yang tanpa simpati.
Sudahlah, pemerintah wajib berbenah. Kembalikan dan kerjakan hal yang bisa dikerjakan tanpa menambah beban masyarakat. Sayangnya, pemerintah seakan-akan punya slogan, “setelah kesulitan selalu akan datang lagi kesulitan”. Hal itu jelas karena mereka sejak awal tidak pernah benar-benar ingin memperjuangkan nasib rakyatnya.
Tambahan kekocakan hidup di negeri ini, yaitu UMKM dulu didorong untuk menjadi penopang ekonomi negara, tetapi saat ini menjadi salah satu sapi yang siap diperah dengan aturan baru. Satu peristiwa yang masih selalu tidak masuk akal ialah di tengah malam pemerintah tiba-tiba membuat tidur rakyat tidak nyenyak karena kenaikan harga pertamax sebesar Rp 3.950 dari Rp.12.300 menjadi Rp16.350 yang makin mencekik sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Baca juga beragam karya sastra di rubrik TETES EMBUN
Hal ini belum selesai pastinya, karena banyak yang mereka tutupi terkait pengelolaan negeri yang dilakukan dengan sembarangan. Tentu hal itu bisa menjadi bom waktu yang akan muncul ke permukaan dan mereka akan melakukan segala cara untuk menutupi dengan kebohongan kembali.
Maka, jika memang tidak bisa mengurus negara dengan benar, mungkin mundur dan meminta maaf disertai pengakuan dosa menjadi solusi untuk menjaga nama agar tidak busuk-busuk amat. Namun, jika masih yakin bisa mengelola, hentikan pembungkaman, karena kritik adalah tanda kasih sayang rakyat pada penguasa. Tidak ada satupun kekuasaan yang bertahan lama dengan kepemimpinan melalui kekerasan.
Hentikan program yang tidak pro rakyat karena menambah kenelangsaan bagi masyarakat dan kembalikan aparatus negara pada jalan yang benar, jangan diperintahkan untuk saling menyakiti antar anak bangsa. Namun, jika tetap berinisiatif melakukan pembungkaman yang malah menjadikan negara ini mendapat label demokratis abal-abal, maka kekuasaan harus turun tangan untuk menindak tegas, stop KKN karena bangsa ini tidak kurang-kurang manusia baik yang tulus mengabdi bagi negeri tercintanya.
Selesaikan kasus-kasus yang saat ini seakan hilang ditelan angin, pagar laut misalnya. Kembalikan juga KPK seperti dahulu yang menjadikan masyarakat punya harapan akan kesejahteraan dan kepastian hidup karena saat ini masyarakat tidak lagi percaya pada Polisi, TNI, dan Kejaksaan.
Namun, penguasa yang bebal selalu punya cara sendiri untuk menulis cerita sejarah palsu dan jika itu sampai terjadi rakyat akan percayapada dirinya sendiri, dan ketika itu terjadi semua buku sejarahakan menulis rezim ini sebagai yang terburuk di antara yang paling buruk dan konyol.
“Setelah ini badai akan datang, perut makin lapar, dan ketika kalian tidak mampu memberikan kesejahteraan dan keamanan, jangan campuri kemiskinan kami. Hati-hati memilih pemimpin, sebab lebih penting dari membeli barang di shopee. Membeli barang di shopee bisa ditukar saat itu juga, tetapi salah memilih pemimpin harus tunggu lima tahun, itu pun kalau kita tetap waras."
Baca karya Muchlas Abror lainnya:
- Rebutan Kursi RI-1 Sudah Dimulai; Siap-Siap Bayar Hutang Negara
- Kartini adalah Jalan Kesetaraan Gender
- Catatan Aksi 11 April 2022
Ditulis oleh Muchlas Abror. Saat ini, ia mengabdikan diri mencerdaskan anak bangsa dan membangun peradaban di UMNU Kebumen, serta bergiat di Keluarga Studi Sastra Tiga Gunung (KSS3G) Temanggung.
